BI Ajak Pentahelix Stakeholder Noto Ngalam

12 April 2019 - 23:25 WIB
Kepala BI Perwakilan Malang Azka Subhan Aminurridho

MALANG (SurabayaPost.id) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Malang mengajak seluruh pentahelix stakeholder menata Malang. Ajakan itu disampaikan lewat acara Malang Raya Economic Forum: Bareng-Bareng Noto Ngalam Raya di Hotel Santika, Jum’at (13/4/2019).

“Mari kita selalu memperjuangkan peningkatan sinergi antar stakeholder dalam pengembangan Malang Raya. Sebab ada tiga potensi yang perlu mendapat prioritas pengembangannya,” kata Kepala BI Perwakilan Malang, Azka Subhan Aminurridho.

Di antara ketiga potensi itu disebutkan seperti pengembangan sektor pariwisata sebagai new source of growth atau sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja sektor riil.

Dari kiri: Kepala BI Perwakilan Malang Azka Subhan Aminurridho, Anggota DPR RI Andreas Susetyo, Wali Kota Sutiaji dan Ketua ISEI Malang Prof Chandra Fajri Ananda

Kedua, mendorong investasi yang dapat menopang tersedianya infrastruktur pendukung. Sehingga bisa meningkatkan nilai tambah produk pada sektor utama. Ketiga, Malang Raya kedepan diharapkan dapat menjadi Hub untuk perdagangan di wilayah Katesa (Kawasan Tengah Selatan) Jawa Timur. Sehingga mampu menjaga kestabilan harga kebutuhan.

Untuk itu, Azka Subhan Aminurridho
berharap sinergi pentahelix stakeholder terjaga dengan baik dengan BI. “Saya yakin, jika sinergi ini tetap terjalin kuat, upaya mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif akan tercapai,” katanya.

Itu mengingat, tegas dia, ada tantangan yang harus dilalui. Disebutkan dia seperti keterbatasan kemampuan industri menyerap tenaga sebagai dampak melemahnya ekonomi global. Kedua concern terhadap kinerja industri dan pertanian tidak bisa dipisahkan dari perkembangan infrastruktur yang ada. Dan ketiga adalah permasalahan tata niaga komoditas bahan pangan yang masih belum efektif dan efisien (volatile foods).

Kepala BI Perwakilan Malang Azka Subhan Aminurridho menyerahkan cenderamata pada Wali Kota Sutiaji

“Makanya, perlu bareng-bareng noto Ngalam Raya. Untuk noto itu perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, khususnya pentahelix stakeholder. Sehingga mulai dari community, government, business, media dan academician benar-benar terlibat sesuai peran masing-masing,” katanya.

Ajakan tersebut mendapat respon positif dari Wali Kota Malang, Sutiaji. Menurut dia, Kota Malang tak bisa membangun atau menata sendiri.

Alasannya, karakter dia di Malang Raya ini tidak hanya ada Kita Malang. Namun juga ada Kita Batu dan Kabupaten Malang.

“Tiga wilayah di Malang Raya itu memiliki keunggulan potensi yang berbeda. Sedangkan persoalan yang dihadapi tidak jauh beda,” katanya.

Dia contohkan masalah transportasi arus lalu lintas. Menurut dia, tak mungkin Kota Malang bekerja sendiri mengatasi masalah kemacetan lalu lintas atau persoalan ekonomi.

“Kami harus duduk bareng Kabupaten Malang dan Kota Batu. Sehingga persoalan itu bisa teratasi,” kata dia.

Prof Chandra Fajri Ananda

Itu mengingat, lanjut dia, potensi ekonomi di tiga wilayah tersebut berbeda. Kota Batu, kata dia punya potensi destinasi wisata buatan. Kabupaten Malang kaya destinasi wisata alam. Sedangkan Kota Malang punya potensi wisata kuliner, heritage dan lainnya yang tak dimiliki Kota Batu dan Kabupaten Malang.

“Kalau potensi itu disinergikan saya yakin hasilnya akan beda. Sebab, kita bisa maju bersama,” kata dia.

Harapan sinergi Sutiaji itu mendapat respon positif dari Ketua ISEI Malang, Prof Dr Chandra Fajri Ananda. Menurut dosen Ekonomi Universitas Brawijaya Malang ini, untuk bersinergi itu perlu ada regulasi.

“Kalau ada regulasi yang jelas, maka sinergitas antara stakeholder akan berjalan dengan bagus. Itu tidak hanya terkait infrastruktur,” tegas dia.

Namun, lanjut Chandra Fajri Ananda, juga terkait pengembangan potensi di wilayahnya masing-masing. Dia contohkan soal pengembangan agroindustri yang berbasis teknologi.

“New Zailand menurut saya bisa dijadikan contoh. Pengembangan industri pertanian di sana sudah berbasis industri 6.0, bukan 4.0 lagi. Saya kira itu bisa dicontoh dan diterapkan di Malang Raya ini. Yang penting regulasinya jelas,” katanya.

Kepala BI Perwakilan Malang Azka Subhan Aminurridho menyerahkan cenderamata pada Anggota DPR RI Andreas Susetyo

Menyinggung soal regulasi terkait sinergitas itu, Anggota DPR RI Andreas Susetyo sangat mendukung. Menurut dia, hal itu demi mengembangkan potensi yang ada di Malang Raya ini.

“Saya rasa sinergitas antar daerah di Malang Raya itu perlu terus ditingkatkan. Sebab dengan adanya sinergitas itu akan memudahkan koordinasi antara daerah dengan pusat,” papar dia.

Karena itu politisi dari PDIP ini sangat yakin pemerintah pusat akan mensuport jika program di daerah bagus. “Terutama pembenahan infrastruktur yang berkaitan dengan pengembangan wisata. Sehingga bisa memacu pertumbuhan ekonomi daerah,” tandasnya. (aji)