Destinasi Wisata Kopi Bulukerto Mulai Jadi Jujugan Wisatawan

3 August 2019 - 16:12 WIB
Wisatawan asal Surabaya saat melihat langsung kopi yang dijemur petani.

BATU (Surabayapost.id) – Destinasi wisata kopi di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mulai menjadi jujugan wisatawan. Sehingga diyakini bakal mendongkrak perekonomian warga Kota Batu.

Keyakinan tersebut dikatakan Febrian Budi, wisatawan dari Kota Surabaya saat berkunjung ke Kota Batu, Jatim bersama rekan – rekannya, Jumat ( 2/8/2019).

Menurutnya, Kota Wisata Batu tak hanya sebatas menyajikan ragam wisata buatan maupun keindahan alam dan udara sejuknya saja. Sebab, Kota Wisata Batu juga memanjakan para wisatawan dengan  beragam pilihan.

Petani bersama wisatawan  dari Surabaya Febrian Budi

“Satu di antara pilihan itu adalah  edukasi wisata kopi di Bulukerto. Destinasi wisata itu banyak disasar penikmat kopi,” kata Febrian Budi.

Hal senada diungkapkan Harianto. Dia yang  mengaku berlibur di Batu sudah sepekan itu, waktunya sengaja dihabiskan di wisata kopi.

“Selain bisa merasakan nikmatnya kopi khas batu, kami juga mendapat wawasan baru.  Itu mulai dari proses pembibitan dan penyemaian kopi hingga disajikan menjadi minuman kopi. Itulah alasan kami betah di wisata kopi Bulukerto,” tuturnya.

Apalagi, dia bersama rekan-rekannya mengaku mendapat sambutan hangat. Sehingga sebelum menyasar tempat-tempat wisata yang bertebaran di bumi Kota Batu, singgahi terlebih dulu di Wisata Kopi  Bulukerto.

Petani kopi asal Bulukerto, Kota Batu

“Kami bisa beredukasi mengikuti proses pembibitan hingga penanaman bibit pohon kopi, sampai kopinya diproses dan kita nikmati. Sangat luar biasa untuk ikut serta melestarikan kopi sejak dari awal penanaman hingga sajian dalam menjalin sebuah kehangatan suasana bersama bagi relasi dan kerabat dekat, di Kota Batu,” puji Febrian Budi.

Selain itu, Febrian Budi mengaku melihat sistem tumpang sari yang dilakukan para petani kopi. “Dari situlah kami meyakini para petani bakal bisa mendapat keuntungan lebih. Dan itu  bisa mendongkrak perekonomian warga sekitar,” ucap Febrian Budi yang diamini rekan – rekannya.

Sementara itu, Budayawan Kota Batu Didik Mintarjo, membeberkan sejarah keberadaan kopi di Kota Batu. Menurutnya, kongsi dagang atau perusahaan Hindia Timur Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)  berdiri pada tanggal 20 Maret 1602.

VOC adalah persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Tak terkecuali di Indonesia, khususnya di Bumi Kota Batu.

“Kolonialisme yang dibawa oleh Belanda di Indonesia memiliki dampak di bidang perkebunan atau hasil pertanian di Kota Batu. Belanda membawa pertanian atau perkebunan kopi ke Kota Batu. Tak hanya Kota Batu, tapi juga di berbagai daerah di Indonesia saat itu. Pasalnya, pertanian kopi sangat menguntungkan VOC saat itu,” katanya.

Maka dari itu, kata dia, pertanian kopi sudah  ada sejak jaman penjajahan Belanda. “Perkebunan kopi di Batu sudah ada sekitar tahun 1730. Ya memang itu masih bisa diperdebatkan kalau merujuk pada  berbagai literatur sejarah,” tandasnya.

Menurut dia, perkebunan kopi di Kota Batu mulai bergeliat sekitar tahun 1960 an. Tepatnya di wilayah Kusuma Agrowisata atau lereng Panderman hingga wilayah Jatim Park 2 atau museum satwa.

“Bahkan di wilayah yang saat ini dikenal dengan Oro – Oro Ombo atau Jalur Lintas Barat, Jalibar juga banyak tanaman kopi. Kebun kopi juga tersebar di Tlekung, Pesanggrahan, Songgokerto, Punten, Junggo, Arjuno, Sumbergondo, Bulukerto, hingga Giripurno. Saat itu pula kopi menjadi pertanian monokultur. Sedangkan saat ini kopi menjadi pertanian tumpang sari,” tegasnya.

Dia meyakini pertanian kopi saat ini tengah kembali pada masa kejayaannya. Itu dibuktikan dengan banyaknya petani di Kota Batu yang kembali menanam kopi.

Itu karena menikmati kopi kini semakin menjadi tren di kalangan semua kalangan. Termasuk juga bagi kawula muda. Sehingga muncul destinasi wisata kopi.

Munculnya destinasi wisata kopi itu menurut Plt Kepala Dinas Pariwisata  (Disparta) Kota Batu Imam Suryono tak lepas dari kejelian masyarakat membaca peluang. Menurut dia, kejelian itu didukung dengan visi dan inovasi yang kreatif  

“Warga Kota Batu sudah sadar betul soal Kota wisata. Mereka patut diapresiasi dan support. Sebab jeli membaca peluang dan memanfaatkan potensi yang dimiliki,” kata dia.

Kendati demikian dia mengingatkan agar potensi yang ada tersebut terus dikembangkan dengan melakukan inovasi secara kreatif. “Kalau semua itu dilakukan kami yakin semua potensi wisata di Kota Batu bakal tumbuh dan berkembang dengan baik,” tutur dia.  (gus).