Masjid Jangan Jadi Pelengkap, Tapi Jadikan Awal Bangunan Kawasan

14 November 2021 - 21:26 WIB

JOMBANG (SurabayPost.id)–Membangun masjid menjadi pusat peradaban. Pusat perubahan ekonomi, pusat mensejahterakan ummat adalah wajib hukumnya.

” Masjid jangan jadi pelangkap, tapi jadikan bangunan awal. Dari situlah membangun kawasan. Melahirkan peradaban baru, ” tegas ustadz Muhammad Jasir, tokoh Masjid Jogokaryan Yogyakarta dalam dialog Masjid sebagai Roh membangun kawasan di komplek Vila Saieda estate Wonosalam Jombang (14/11).

Bahkan Ustadz Jasir menambahkan, kalau masjid hanya dibangun megah, indah, tapi sepi aktivits ibadah. Tanpa Mampu menyelesaikan problema ummat, kemiskinan warga sekitar masjid, bangunan megah itu tidak ada gunanya” tegas ustadz Muhammad Jasir.

Dialog yang juga menampilkan pembiacara, Farkhan Asyari, pengusaja asal Solo, Yusron Aminulloh, CEO Saieda estate Wonosalam Jombang diikuti para masjid Jombang, Baznas, pesantren bahkan beberapa pengusaha.

Pada bagian lain, Ustadz Jasir juga memberi solusi bagi pengusaha, agar langkah bisnis mulai dari masjid.

“Membuat kawasan baru, baik perumahan, vila dan wisata, mulailah dengan masjid. Masjid adalah central, pusat perubahan, pusat ekonomi. Saya sudah praktikkan beberapa pengusaha lakukan itu dan sukses,” tambahnya.

Di Yogyakarta. Ada pengusaha mulai bangun masjid, dijalan raya besar Yogya – Jakarta. Dikasih parkir besar, dikasih toilet viip berbayar, dan toilet gratis. Ternyata bis-bis mampir sholat dan yang jarak jauh mandi.

” Lama-lama buka Restoran, pusat oleh-oleh dan ragam kebutuhan wisatawan yang sholat di masjid ini. Hal yang sama dilakukan teman pengusaha yang bikin cluster khusnul khotimah disekitar masjid yang dibangun diperumhannya. Bangunan rumahnya dengan kaca lebar bersebelahan dengan masjid. Jadi kalau sudah tua, gak kuat jalan, jamaah dari rumahnya saja yang melihat masjid langsung.” Tegasnya.

Sementara Yusron Aminulloh, mengaku mendapat energi besar dengan dialog siang ini.

” Betapa kita memahami filosofi dasarnya, bahwa masjid itu pusat, awal. Bukan pelengkap dan dibangun diakhir. Ini ada periode sederhana tapi dalam.”

Sedang Farkhan Asyari mengaku bahagia bisa bersama para Kyai, ustadz dan undangan. ” Kehadiran saya mengawal dan menemani ustadz Jasir.” tegas eksportir yang memfasilitasi pertemuan dan acara penuh makna ini ***