Ngajar di Thailand, Mahasiswa IKIP Budi Utomo Harus Lulus Tes Baca Al Quran 

3 January 2019 - 21:08 WIB
Kepala Pusat Kerjasama dan Humas IKIP Budi Utomo Malang, Dr Rochsun MKes saat menguji peserta tes seleksi magang mengajar di Thailand.
Kepala Pusat Kerjasama dan Humas IKIP Budi Utomo Malang, Dr Rochsun MKes saat menguji peserta tes seleksi magang mengajar di Thailand.

MALANG  (SurabayaPost.id) – IKIP Budi Utomo (IBU) Malang  jalin kerja sama dengan Yayasan  Lukmanulhakeem, Yade, Thailand. Kerjasama tersebut, menurut Rektor IBU Malang, Dr Nurcholis Sunuyeko, terkait mahasiswa magang mengajar di yayasan  tersebut.

“Kami diminta mengirim mahasiswa ke Thailand tiap bulan empat orang selama setahun. Mereka ditugaskan untuk mengajar bahasa Indonesia dan mengaji atau membaca Al Quran,” kata Rektor IBU, Dr Nurcholis Sunuyeko, Kamis (3/1/2019).

Makanya, tegas Rektor IBU yang akrab disapa Yai ini, mahasiswa yang ikut seleksi mengajar di Thailand harus memenuhi persyaratan. Di antara persyaratan itu disebutkan seperti bisa membaca Al Quran, mampu mengajar, bisa bahasa Inggris dan lainnya.

Untuk mengetahui bahwa mahasiswa yang dikirim memenuhi persyaratan tersebut,  maka harus lulus tes. “Tes utama adalah membaca Al Quran, teknik mengajar dan bahasa Inggris,” kata Yai yang juga Ketua FORKI Kota Malang.  

Animo mahasiswa IBU untuk mengikuti program mengajar di Thailand itu ternyata cukup tinggi.  Sebab, setiap hari ada 20 mahasiswa dari berbagai semester dan jurusan yang ikut tes.

Padahal, tiap bulannya hanya diberangkatkan empat orang. “Sehingga seleksinya sangat ketat,” kata Kepala Biro Kerjasama dan Humas IBU Malang, Dr Rochsun MKes.

Dijelaskan dia, bahwa mahasiswa yang lolos dan diberangkatkan ke Thailand itu mendapat reward khusus. Sebab, magang mengajar satu bulan di Thailand itu bisa dikonversikan ke mata kuliah wajib.

“Mereka bisa memilih dikonversikan ke nilai Kuliah Kerja Lapangan (KKL), Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) atau praktik mengajar. Bahkan bisa dikonversi ke Pengabdian Masyarakat Berbasis Pendidikan (PMBP) yang dukung disebut KKI  (kuliah kerja nyata),” kata dosen yang biasa disapa Aya ini disela-sela melakukan tes seleksi.

Sementra itu beberapa mahasiswa yang ikut tes seleksi terlihat sangat antusias. Itu tercermin pada  Anggun Yulan Prastika, Eka Agmalia, Ida Lailatul Ulyah dan Hermin Kustianingsih. Mereka semua kebetulan jurusan Bahasa  Indonesia.

Mereka sangat berharap bisa lolos tes seleksi itu. “Karena kami ingin mengamalkan ilmu saat menjadi guru. Selain itu kami ingin menimba ilmu di sana yang disini tak bisa kami peroleh,” kata Eka Agmalia, penerima beasiswa Bidik Misi ini yang diamini peserta seleksi lainnya. (gus)