Produksi Keju, Perusahaan Asal Bali Gandeng KMMM Batu Demi Pulihkan Ekonomi di Masa Pandemi Covid-19

25 October 2020 - 12:19 WIB
Salah satu Manajemen PT GCI Bersama Ketua KMM dan Direktur PT GCI

BATU (SurabayaPost.id) – Koperasi Margo Makmur Mandiri (KMMM) di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, digandeng PT Gioia Cheese Indonesia asal Denpasar Bali. Itu terkait produksi pengolahan keju di desa penghasil susu tersebut untuk memulihkan ekonomi di masa pandemi Covid-19.

Ketua KMMM, M Munir menjelaskan bahwa KMM sudah berjajan selama lima tahun. Penghasilan susunya dipasok di PT tersebut.

“Sebelum pandemi setiap pekannya kita pasok sejumlah 10,000 liter susu segar ke Bali. Selama pandemi ini, menurun dan setiap minggunya hanya mengirim sejumlah 5,000 liter,” kata Munir, Sabtu (24/10/2020) malam di Hotel Orchid, Kota Batu.

Itu, kata dia, dari sejumlah 100 anggota KMM tersebut, terdapat sejumlah 600 ekor sapi, dan setiap harinya menurutnya menghasilkan susu segar sejumlah 5000 liter.

“Selama lima tahun berjalan, hasil susu dari anggota KMMM tersebut, selain dipasok pada PT Goia Cheese Indonesia (GCI) setiap pekannya, sekaligus dikirim pada Indolakto, setiap harinya sejumlah 5000 liter,” ungkapnya.

Itu, ungkap dia, harga susu per liternya seharga Rp 6,200. Dia mengaku bangga dipercaya PT GCI karena dinilai kualitas susunya baik diproduksi bahan olahan keju.

Dan itu, kata dia, sudah selama 5 tahun bekerjasama dengan PT Goia Cheese Indonesia ( GCI) di Denpasar Bali. Oleh karena itu, Munir dan Direktur OT tersebut, mengaku punya rencana.

“Di Desa Gunungsari karena mayoritas berpenghasilan susu, jadi bakal memberikan edukasi kepaksa warga desa setempat. Apalagi saat ini sedang ditengah Covid-19,” ungkapnya.

Karena, ungkap dia, masyarakat untuk meningkatkan imunitas. Selain mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C, sedianya juga mengkonsumsi keju dan susu yang sudah difermentasi.

Sementara itu, Direktur PT GCI ,Ilios Maggi Andreadakis berasal dari Negara Italy ini, mengaku seiring dengan perkembangan Kota Batu, sangat mendukung visi pemerintah daerah desa berdaya kota berjaya.

“Dengan perkembangan Kota Batu kami mensupot dan mendukung visi pemerintah desa berdaya kota berjaya sesuai potensi di desa masing-masing. Khususnya di Desa Gunungsari karena penghasilan warga setempat mayoritas dari susu, sedianya bisa membuat produk olahan, stik dari bahan susu dan permen susu dan sebagainya,” harapnya.

Jadi, harap dia, bisa mengangkat dengan bahan olahan susu. Susu dari KMMM itu kualitasnya diklaim paling bagus.

“Kriterianya susu baik tersebut, bakterinya 1 juta dan proteinnya lebih dari tiga, dan masih banyak kriteria yang lainnya. Termasuk tidak boleh mengandung antibiotik, karena kalau diproduksi olahan keju bakal gagal,” ujarnya.

Kemudian ,ujar dia, terkait dengan PT produksi kejunya yang ada di Denpasar Bali, setelah pandemi berakhir, Ilios meyakini permintaan keju bakal meningkat.

“Perkilonya keju tersebut harganya bervariasi ada yang seharga Rp 450 ribu, dan ada pula yang seharga Rp 150 ribu.

Perbandingannya, dari sejumlah 10 liter susu, kalau diproduksi menjadi olahan keju menghasilkan 1 Kg keju,” jelasnya.

Itu, semua jelas dia, Kota Batu khususnya di Desa Gunungsari sangat masyarakatnya perlu di edukasi cara memproduksi keju. (lil)