Siswa Pukul Guru, Yusron Aminulloh : Minta Maaf Dianggap Selesai, Akar Masalahnya Tidak Tersentuh

11 February 2019 - 06:56 WIB

SURABAYA (SurabayaPost.id)-Fonomena siswa membully dan bahkan melakukan kekerasan terhadap gurunya sudah pada taraf menghawatirkan. Kali ini terjadi di Gresik dan membuat sejumlah pihak miris. Salah satunya adalah Yusron Aminulloh peaktisi pendidikan dan Master Training MEP Indonesia.

Yusron, panggilanya mengaku miris dan sedih saat melihat sebuah vidio siswa di Gresik yang ngamuk dan siap siap memukul gurunya karena diperingatkan saat merokok di kelas. Orangtua wajib deteksi dini pada anak-anaknya.

“Ini menunjukkan ada krisis kewibawaan dan degradasi rasa hormat murid sama guru. Artinya, ini sangat mengkhawatirkan kalau sampai menjadi gejala yang berkepanjangan,” ungkap Yusron Aminulloh, saat diwawancarai terkait fonomena siswa yang kerap melakukan kekerasan terhadap gurunya, Senin (11/2)

Yusron membeberkan, bangsa ini masih puas menjadi ‘masyarakat hukum formal’. Begitu selesai persoalan hukumnya, saling memaafkan, dianggap masalah selesai.

“Padahal akar masalahnya tidak terselesaikan. Jangan kaget esok hari akan terjadi lagi. Bahwa kasus Gresik ini akhirnya menunjukkan ending yang menarik, akhirnya minta maaf dan gurunya memaafkan, adalah sebuh point bagus, ” tambah Yusron yang juga menjadi konsultan sejumlah sekolah di Jawa Timur.

Ia menandaskan, yang harus dilakukan agar peristiwa ini menjadi pelajaran bagi masa mendatang, menurutnya ada tiga hal yang harus dilakukan.

Pertama, anak-anak adalah produk orang dewasa. Kalau melihat ada anak muda yang sok hebat, sok pemberani itu, bukan gejala saat dia remaja. Tapi ini problem anak sejak kecil. Orangtua harus mampu mengontrol didalam rumahnya, adakah gejala yang kurang tepat pada anaknya.

” Karena minimal 12 jam bertemu dalam sehari dalam satu rumah. Orangtua wajib mendeteksi anak sejak dini, apa yang kurang dan salah pada anaknya. Dan itu mudah. Dari bahasa tubuh, komunikasi, nada bicara, laku ibadah hariannya dan seterusnya orangtua paham ada yang salah apa tidak pada anaknya. Dengan deteksi dini ini, maka orangtua tidak akan melihat anaknya melakukan pelanggaran etika, moral apalagi hukum diluar rumah ”

Kedua, Guru wajib meningkatkan kualitas diri. Meski Kemendikbud dan Dinas Pendidikan sudah terus melakukan upaya, namun selama ini masih terlalu fokus pada peningkatan penguasaan materi ajar dan tugas administrasi lain.

” Guru harus berwibawa. Disegani anak. Bukan ditakuti apalagi diremehkan. Ini yang mulai kurang diasah oleh guru secara pribadi maupun institusi. Guru sekarang sibuk administrasi. Kurang waktu memperdalam llmu dan mengasah diri untuk semakin hari semakin ikhlas dan punya “ilmu batin” yang memancarkan kewibawan,” tegas Yusron yang juga pengasuh acara Motivaction Radio Sham FM Network.

Ditanya apa maksud ilmu batin, dia menyebut intinya guru harus ada pancaran ilahiyah dalam dirinya. Mengajar bukan karena kerja dan tugas saja. Tapi karena sedang menyebarkan nilai nilai kebenaran.

“Inilah modal utama kewibawaan. Tidak mungkin murid berani menantang guru, bahkan berkata kasar sama guru saat bertemu guru semacam ini. Tapi ingat. Guru tidak cukup baik dan ikhlas. Tapi harus berilmu. Mampu berkomunikasi dengan indah, dan pancaran kewibawaannya bisa dirasakan murid.”

Ketiga, komunikasi Guru dan Orangtua mulai melemah. Karena kesibukan orangtua, soal pendidikan pasrah ke sekolah. Ini yang menjadi masalah.

” Pada setiap sekolah yang saya bina, selalu wajibkan wali kelas dan guru, komunikasi dengan wali murid. Kunjungan rumah, komunikasi modern lewat HP, adalah model pendekatan modern yang mempermudah menjaga hubungan hati antara guru dan wali murid. Demikian juga sebaliknya, wali murid apabila di rumah merasakan gejala anaknya ada yang tidak beres atau tidak pas. Wajib langsung komunikasi dengan guru. “