Soal Banjir, Gubernur Jatim Minta Siapkan Langkah Antisipasi

5 November 2021 - 14:46 WIB
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa

BATU (SurabayaPost.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa atensi bencana di Kota Batu agar segera siapkan langkah antisipasi. Hal tersebut, disampaikan Khofifah saat meninjau lansung kelokasi bencana bersama Sekda Provinsi Jatim, Bakorwil III Malang, di Dusun Sambong, Desa Bulukerto,  Kota Batu, Kamis (4/11/2021) malam.

Kedatangan Khofifah bersama tim tersebut, disambut Wali Kota Batu ,Dewanti Rumpoko, bersama Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso ,dan Forkopimda Kota Batu. 

Saat itu, Khofifah juga melihat posko dapur umum yang didirikan oleh Tagana Kota Batu, di Balai  Desa Bulukerto, sembari mengingatkan tentang peringatan dari BMKG, mulai November sampai Februari 2022 akan terjadi intrnsitas curah hujan 70 persen lebih tinggi. 

“Memungkinkan terjadi banjir,banjir bandang di Indonesia, terutama Jawa Timur. Saya mewanti-wanti kesiapsiagaan, sinergitas harus dilakukan,” ujarnya. 

Itu, ujar dia, fenomena La Nina berdampak pada meningkatnya ancaman bencana hydrometrologi. 

“Saat ini kita masuk dalam tanggap darurat, bisa mendirikan posko dapur umum, pos pengungsian, karena prediksi masih ada hujan susulan. Seluruh hunian di bantaran sungai harus dievakuasi, sesuai dengan siklusnya ada proses rehabilitasi dan konstruksi,” pesannya.

Direktur Perum Jasa Tirta 1, Raymond Valian Ruritan membeberkan, kejadian bencana banjir bandang terjadi pada saluran alami yang tergabung dalam aliran Sungai Brantas.

Kejadian tersebut , menurut Raymond berawal dari hujan lebat dengan intensitas tinggi dengan curah hujan diatas Kota Batu sekitar 80 MM sedangkan di bagian hulu sampai 100 MM selama dua jam, secara kumulatif

“Hujan meganggkut tanah, kayu dan ranting pohon di aliran alami yang kanan kirinya ada rumah penduduk, debit air di Kota Malang sekitar 430 meter per detik dengan kondisi siaga ,” kata Raymond.

Sementara itu, Kepala BBWS Brantas Muhammad Rizal, menambahkan rata – rata hujan di Jawa Timur mencapai 2000 MM, curah hujan tinggi tidak ditunjang dengan tangkapan airnya. 

“Kita harus perbaiki kedepan, jangan sampai merembet ke Sungai Brantas, kita bersama pemerintah provinsi dan Kota/Kabupaten harus menata lagi daerah tangkapan air,” tegas Rizal. (Gus)