Temani “Balita” Perusahaan Kita

5 June 2020 - 13:56 WIB

Oleh : Yusron Aminullah

“Tidak ada kata nanti untuk seorang anak,” Itu kata seorang panyair.

Sederhana, tapi punya makna dalam. Kalau kita punya anak bayi hingga balita (5 tahun), jangan coba coba menunda untuk mengasuh, mendidik, mengelus lembut dan membelai. Melatih disiplin, menggembleng keberanian dan seterusnya. Karena kalau itu ditunda setelah usia 5 tahun, kita akan kehilangan banyak hal.

Tiba-tiba anak kita liar, tidak patuh, tidak memahami makna pergaulan sosial. Tidak tahu batas dan lain sebagainya. Dan yang paling bahaya, hatinya tidak bisa “kita pegang”, karena haus kasih sayang.

Maka perilakunya tak terkendali. Kalau mandiri jadi terlalu bebas dan egois, kalau manja akan menjadi lemah dan sangat tergantung. Bahkan hidupnya menjadi serba tidak tepat. A-historis, A-sosial, bahkan kompleksitas psikologisnya melebar.

Demikian juga mengendalikan perusahaan. Memakai analogi balita tadi, jangan salah langkah sejak bayi hingga balita (1 hingga 5 tahun).

Ada perusahaan yang kelihatan kecil, tak menonjol, tetapi diam-diam sebenarnya kuat fondasi finansialnya, kuat fondasi manajerialnya dan kuat fondasi filosofi hidupnya. Itu semua akibat tepat “mengasuh” bayi perusahaan itu selama 5 tahun awal.

Sebaliknya, ada perusahaan “kelihatan” kuat tapi sebenarnya dia keropos. Sangat populer dipandang orang, tapi sebenarnya jalannya belum kokoh bahkan tertatih- tatih.
Kenapa ? Karena tanpa fondasi kuat. Karakter kepemimpinan dan manajemen menjadi salah satu titik yang memperlemah.

Diibaratkan orang tua yang egois, tidak peduli sama balitanya. Pemilik perusahaan masih sibuk mengurus dirinya, sehingga persentuhan hati (pimpanan dan anak buah) tidak terjalin indah. Kultur manajemen masih “memusat”, leveling manajemen masih artifisial. Fondasinya lemah.

Tim yang dibangun juga tidak merasa terlibat secara sungguh-sungguh untuk memajukan perusahaan. Hubungan masih dilevel orang yang memimpin dan dipimpin. Bahkan lebih parah lagi tampak hanya hubungan pemilik dan karyawan. Akibatnya, masih jauh disebut menjadi sebuah tim.

Kenapa bisa terjadi, hubungan ortu (ibarat : Pemilik perusahaan) dan anak (ibarat: Karyawan) rendah kualitas komunikasi hatinya. Karena sudut pandang dan filosofi mendirikan perusahaan ada yang kurang tepat teori dan praktiknya.

Mereka menganggap yang kuat adalah yang memegang kekuasaan. Yang lemah yang dikuasai.

Bahwa, kau anakku, maka wajib patuh pada orangtua. Kau anak buahku harus patuh pada pimpinan. Hubungannya struktural bahkan formal yang ikatan emosinya rendah.

Maka perusahaan sulit maju karena tim kerja yang kuat terkendala. Ikatan emosi pimpinan dan anak buah rendah. Hubungannya hanya “jual beli”. Kamu saya bayar mahal kau harus kerja keras.

Konsep membelai, mengggunakan hati, memangku, bersikap tegas tapi juga lembut dalam mengayomi tim jadi tidak ada.

Maka, lihatlah anak kita setelah 5 tahun. Kalau dia cerdas, lembut penuh kasih sayang, puncak rindunya pada ayah bundanya tak habis-habis, emosinya stabil, disiplin, itulah produk anda mendidik anak yang berhasil.

Demikian juga perusahaan kita. 5 tahun adalah pondasi awal kesuksesan masa depan perusahaan. Kalau karyawan kita selama 5 tahun setia, taat, patuh, disiplin tapi cerdas dan inovatif, itulah tanda kita sedang menyiapkan karpet merah kemajuan perusahaan kita.

Tapi kalau 5 tahun penuh masalah, karyawan saling berganti, radius kepercayaan antara pimpinan dan staf bukan makin lebar tapi makin sempit, maka bersiaplah akan melahirkan perusahaan yang kelak akan banyak masalah, seperti juga balita yang salah didik akan menghadirkan anak kita yang kelak akan selalu membuat masalah, bukan melahirkan solusi. ***

Bersambung.

#dedurianpark
#meptrainingcenter
#wonosalamcitypark