MALANG (SurabayaPost.id) – Sebuah tonggak sejarah ditorehkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selasa (7/7/2026), Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.Ikom resmi meresmikan UMM Migrant Center di Kampus Putih.
Fasilitas ini langsung dinobatkan sebagai pusat pelatihan pekerja migran paling lengkap, besar, dan komprehensif di seluruh Indonesia. Lebih dari seremoni, UMM Migrant Center diproyeksikan jadi pilot project program direktif Presiden untuk menyiapkan 500 ribu pekerja migran kompeten hingga 2029.
Dalam kunjungan peresmian, Wamen P2MI menegaskan UMM berada di level berbeda. Dari 24 migrant center yang dipantau kementerian, infrastruktur Kampus Putih dinilai paling siap dan kurikulumnya sudah “next level”.
“Kami sangat mengapresiasi kelengkapan fasilitas, termasuk ketersediaan kelas bahasa Jepang spesifik hingga level N3 dan N4. Ini krusial untuk membantu kementerian mengejar target 40.000 pekerja migran terampil tahun ini,” tegas Dzulfikar.

Target besar itu bagian dari roadmap nasional: 500.000 pekerja migran prosedural dan kompeten secara bertahap hingga 2029. Dan UMM ditunjuk sebagai penopang utamanya.
“Dari berbagai migrant center yang kami datangi, UMM Migrant Center jadi salah satu dari PTS paling lengkap, besar, dan komprehensif. Saya beserta tim sangat merasa terbantu,” pujinya.
Keunggulan UMM yang membuat Wamen terkesan: jejaring korespondensi langsung ke Jepang yang sudah terbukti berjalan. Bukan sekadar MoU, tapi jalur penempatan nyata.
“Kita berharap UMM menjadi penopang utama dari kesuksesan program direktif Bapak Presiden. Ini yang sudah existing dan sisa kita upgrade lagi supaya sampai ke visa engineer,” tambahnya.
Sistem komprehensif UMM akan diduplikasi kementerian untuk diterapkan di pusat pelatihan daerah lain. Artinya, model Malang akan jadi cetak biru nasional.
Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan pendirian Migrant Center adalah respons visioner terhadap perubahan global.

Pusat kajian transdisiplin ini dirancang menghadapi era VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity. Juga era BANI: Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible.
“Hal ini memerlukan tempaan pengalaman langsung di lapangan, pendidikan karakter, pembentukan disiplin, manajemen waktu, dan penguatan ketangguhan mental,” jelas Prof. Nazaruddin.
Jadi lulusan UMM Migrant Center tidak cuma jago skill teknis. Mereka dibekali mental baja untuk bertahan dan menang di negeri orang.
Migrasi aman dan prosedural jadi strategi pemerintah memutus citra negatif pekerja ilegal. Wamen meyakinkan: PMI yang berangkat lewat jalur resmi dengan persiapan matang justru paling dihargai negara pengguna.
Bagi UMM, ini bukan soal prestasi kampus. “Prestasi sejati bagi institusi pendidikan bukanlah deretan trofi, melainkan kemampuan alumninya memenangkan ujian kehidupan,” tegas Rektor.
Dengan UMM Migrant Center terlengkap di Indonesia, Kampus Putih berkomitmen mencetak SDM yang siap kerja, siap bersaing, dan siap mengharumkan nama Indonesia di dunia. (lil).
