Ali Ghufron: Perguruan Tinggi Punya Peran Cetak SDM RI

2 October 2019 - 07:25 WIB
Kepala LL Dikti Wilayah VII Jatim Soeprapto

JAKARTA  (SurabayaPost.id)  – Malam puncak penganugerahan Academic Leader digelar pada Selasa (1/10/2019) malam di Jakarta. Sejumlah tokoh mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut.

Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Prof dr
Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D, menyatakan bahwa malam penganugerahan ini menjadi momentum istimewa. Sebab, hari pelaksanannya bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila

“Semoga yang kita kerjakan selalu sejalan dengan sila-sila yang ada di Pancasila,” imbuhnya.

Dia menyebut, banyak pihak memprediksi Indonesia akan menjadi negara paling hebat di bidang ekonomi dalam beberapa tahun mendatang. Namun, menurutnya semua itu tergantung pada SDM yang dimiliki Indonesia.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) wilayah VII Jawa Timur, Prof Dr Suprapto DEA (kiri) bersama Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Prof dr Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D (kanan).

“Dan produksi SDM paling menentukan perguruan tinggi. Karena itu peran penting Academic Leader, adalah seorang dosen yang memiliki tugas tambahan yaitu memimpin perguruan tinggi. Harus inspiring, excellent dan bisa membawa gerbong inovasi perbaikan,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, salah satu yang mendapat gelar adalah Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) wilayah VII Jawa Timur, Prof Dr Suprapto DEA. Dia meraih penghargaan sebagai Academic Leader 2019 kategori pemimpin LL Dikti.

Penghargaan tersebut memang pantas didapatkan Suprapto. Pasalnya, kontribusinya di dunia akademis tergolong tinggi. Dewan juri mencatat sederet inovasi yang telah dicetuskannya.

Pertama, yakni teknologi pembuatan Katalis Padat Borpromotor Ganda CaO/KI/O-Alumina yang digunakan untuk menghasilkan biodiosel. Kedua, inovasi teknologi absorbsi gas CO2 untuk mengurangi deaktivasi katalis.

Banyak publikasi dan penelitiannya juga dikutip oleh berbagai cendekiawan baik nasional maupun internasional. Suprapto mengaku torehan ini cukup berarti baginya. Sebab, selain sukses di dunia akademis, dia juga sukses memimpin LL Dikti Jawa Timur.

“Mudah-mudahan ini bisa berguna dan memacu dosen-dosen yang lain. Karena saya sibuk tapi masih bisa menulis banyak, meneliti, dan seterusnya,” ungkap dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

“Secara kelembagaan karena saya membina PTS, saya ingin PTS PTS itu maju. Tantangannya adalah SDM. Terkadang juga ada konflik di antara mereka,” urainya. (lil)