“Dignity Is Not Negotiable”: Puisi Kasiati, Mantan PMI Malang Guncang Jaringan Migran Dunia

Puisi berjudul _“The Cry of an Abused Migrant Worker”_ karya Kasiati mantan PMI Malang jaringan migran dunia. (ist).
Puisi berjudul _“The Cry of an Abused Migrant Worker”_ karya Kasiati mantan PMI Malang jaringan migran dunia. (ist).

MALANG (SurabayaPost.id) – Puisi berjudul “The Cry of an Abused Migrant Worker” karya Kasiati, mantan pekerja migran perempuan sekaligus Pengurus Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) DPC Malang, berhasil menembus panggung internasional. Karya itu masuk dalam buku “Voices from the South: Suara dari Selatan” yang diterbitkan jaringan pekerja migran global bersama Migrant Forum in Asia (MFA).

Ini jadi bukti bahwa suara pekerja migran Indonesia tak hanya bergema di dalam negeri, tapi juga diperjuangkan di forum dunia.

Lewat bait-bait yang menyayat, Kasiati menggambarkan perjuangan PMI yang berangkat membawa harapan, namun pulang membawa luka. Kekerasan, eksploitasi, kehilangan martabat, hingga tekanan batin di negara tujuan ia tuangkan dengan jujur.

“But beyond the raging sea, another storm was waiting— not of water, but of wounds, of fire that consumed our bodies and souls.”

Puisi itu juga menyoroti kerinduan yang tak terbayar. Banyak PMI kehilangan orang tercinta di kampung halaman tanpa sempat berpamitan untuk terakhir kalinya.

“Until one day, the news arrived—our mother was gone forever, and we were never given the chance to hold her one last time.”

Puisi berjudul _“The Cry of an Abused Migrant Worker”_ karya Kasiati mantan PMI Malang jaringan migran dunia. (ist).

Kasiati tak sekadar meratap. Puisinya membawa pesan kemanusiaan yang tegas kepada negara tujuan: hormati martabat pekerja migran.

“Please, honor the dignity of migrant workers. Our dignity is not negotiable.”

Di bagian akhir, ia menohok ke dalam negeri. Kasiati menuntut perlindungan nyata dari pemerintah Indonesia bagi PMI yang rentan jadi korban perdagangan orang dan kekerasan.

“Protect Indonesian migrant workers, so that no life is lost in vain, so that no family is left behind asking in grief: ‘Where was the State when we needed it most?’”

Masuknya karya Kasiati dalam Voices from the South: Suara dari Selatan menjadi kebanggaan tersendiri bagi SBMI Malang dan gerakan buruh migran Indonesia.

Ini membuktikan bahwa pengalaman pahit di negeri orang bisa diubah jadi suara perlawanan yang mendunia. Bahwa jeritan PMI bukan lagi tangis di kamar sempit, tapi gema yang didengar di meja-meja advokasi internasional. (lil).

Baca Juga: