Inovasi Lapas Kelas 1 Malang, Warga Binaan Dilatih Miliki Keterampilan Usaha, Inilah Buktinya

LATIH KETRAMPILAN : Warga binaan Lapas kelas I Malang saat belajar membuat kopi dengan mesin. (istimewa)
LATIH KETRAMPILAN : Warga binaan Lapas kelas I Malang saat belajar membuat kopi dengan mesin. (istimewa)

MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Malang memiliki inovasi yang patut di apresiasi. Sebab, Lembaga dibawah naungan Kanwil Kemenkumham Jawa Timur itu, memberikan pelatihan khusus kepada warga binaannya.

Hal itu tampak terlihat saat puluhan awak media mengunjungi Lapas Kelas 1 Malang, di Jalan Asahan, Klojen, Kota Malang.

Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas tersebut, tengah sibuk memasak untuk menjamu tamu yang datang di kedai New Pojok Kuliner pada Jumat (30/12/2022). Mereka membuat aneka makanan dan minuman di dapur dengan peralatan yang lengkap.

KETRAMPILAN USAHA- Salah seorang warga binaan ketika sedang menyiapkan makanan hasil dari produksi warga binaan Lapas kelas I Malang. (istimewa)
KETRAMPILAN USAHA- Salah seorang warga binaan ketika sedang menyiapkan makanan hasil dari produksi warga binaan Lapas kelas I Malang. (istimewa)

Tempat itu baru dibuka pada tahun 2022 ini sebagai salah satu bengkel latihan dari para WBP yang memiliki minat dan bakat dalam bidang tata boga. Peralatan seperti beberapa kompor hingga mesin penggilingan kopi difasilitasi oleh pihak lapas untuk menunjang kegiatan yang ada.

Kedai tersebut buka pada pagi dan siang setiap harinya, dengan ada sekitar 40 WBP yang ikut pelatihan. Biasanya tamu yang datang yakni petugas lapas dan WBP sekedar ingin bersantai dengan menikmati sajian minuman kopi.

Kalapas Kelas 1 Malang, Heri Azhari (kaos putih deretan depan) berdialog dengan awak media di kedai New Pojok Kuliner Lapas. (istimewa)
Kalapas Kelas 1 Malang, Heri Azhari (kaos putih deretan depan) berdialog dengan awak media di kedai New Pojok Kuliner Lapas. (istimewa)

Kepala Lapas Kelas I Malang, Heri Azhari, SH, MH mengatakan, di Lapas Kelas I Malang terdapat 17 sub minat dan bakat usaha yang dapat diikuti oleh para WBP. Selain tata boga, juga terdapat pelatihan keterampilan seperti mencukur rambut, laundry, melukis, budidaya jamur dan lainnya.

“Sebelumnya, hanya ada sekitar 13 sub minat dan bakat, itu kita perbanyak, supaya WBP lebih banyak pilihan untuk mengikuti kegiatan keterampilan yang ada,” kata Heri disela menerima kunjungan awak media, Jumat (30/12/2022).

Menurutnya, kegiatan berbagai pelatihan keterampilan itu penting untuk membangkitkan semangat dan optimisme para WBP dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, sebagai bekal para WBP ketika bebas nanti yang diharapkan memudahkan untuk mendapatkan pekerjaan atau membuka usaha sendiri.

Kalapas Kelas 1 Malang, Heri Azhari (kaos putih deretan depan) berdialog dengan awak media di kedai New Pojok Kuliner Lapas. (istimewa)
Kalapas Kelas 1 Malang, Heri Azhari (kaos putih deretan depan) berdialog dengan awak media di kedai New Pojok Kuliner Lapas. (istimewa)

Pihaknya juga bekerjasama dengan beberapa lembaga pelatihan keterampilan dan pada tahun 2022 ini sudah memberikan sertifikat kepada 360 WBP.

“Jumlah WBP kita ada 3.166, terdiri dari 600 tahanan, kemudian sekitar 700 – 800 ikut pondok pesantren, sisanya kita arahkan minat dan bakat. Kemudian minat dan bakat ini untuk kita dorong mereka (WBP) memiliki keterampilan, ketika keluar dari sini sudah benar-benar siap kembali ke masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Heri menyampaikan, kegiatan yang berjalan seperti di New Pojok Kuliner, para WBP dilatih untuk membuat beragam makanan dan minuman. Seperti tahu telor, nasi goreng, kwetiaw goreng, onde-onde, minuman kopi dan lainnya.

Kalapas Heri Azhari (kaos putih) pose bersama puluhan awak media di Kedai New Pojok Kuliner Lapas. (istimewa)
Kalapas Heri Azhari (kaos putih) pose bersama puluhan awak media di Kedai New Pojok Kuliner Lapas. (istimewa)

“Kalau kopi di kedai ini, berasal dari Malang, Bali dan juga dari Aceh. Selanjut, kita roasting (penggilingan) sendiri, jadi teman-teman WBP juga menyortir dulu biji kopinya. Selain itu, biasanya memang mereka lebih banyak menerima pesanan, kita mendorong seperti petugas lapas yang memiliki kegiatan-kegiatan untuk memesan makanan, ya dari mereka pesannya, seperti nasi kotak juga,” katanya.

Selain itu, dalam kegiatan minat dan bakat juga ada budidaya jamur tiram. Setiap harinya, para WBP bisa menghasilkan sekitar 30 kilogram jamur tiram yang dipasarkan ke warung-warung makan.

“Satu kilogram itu Rp 10.000, permintaan sebenarnya banyak, tapi kami tidak money oriented, tetapi yang terpenting bagaimana para WBP ini keterampilannya benar-benar teruji dan tidak kalah dengan mereka yang di luar sana,” tandasnya. (Lil)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.