Kelompok Budaya Kerja GRAPYAK, Puskesmas Gribig  2019 Andalkan Inovasi Jek Food

12 December 2018 - 19:15 WIB

MALANG (SurabayaPost.id) –  Berhasil Sabet kompetensi budaya kinerja 10 besar, tepatnya masuk peringkat 8 tingkat Propinsi Jatim,  KBK GRAPYAK lewat Inovasi Jek Food Puskesmas Gribig akan terus ditingkatkan di tahun 2019.

“Kalau di tahun 2018, Puskesmas Gribig yang berada diwilayah di Gribig kecamatan kedungkandang  yang telah sukses dengan KBK GRAPYAK, ‎yang artinya Gribig Ramah ,Profesional Melayani Masyarakat, di masa mendatang tepatnya tahun 2019  akan tetap dipertahankan, bahkan bakal ditingkatkan inovasinya,” ungkap Kepala Puskesmas Gribig, Drg Dinna Indarti, saat ditemui surabayaPost.id dikantornya Selasa.

Lewat KBK grapyak, lewat Inovasi jek food target 50% kita sdh mencapai 60,29%…. setelah 5 bulan ini, sukses tersebut sehingga inovasi itu diadopsi kelurahan lain di pkm gribig. Jadi bukan hanya  kelurahan sawojajar saja, tapi empat kelurahan yang ada di kecamatan Kedungkandang juga mengadopsi, yakni kelurahan kedungkandang, Madyopuro,Sawojajar dan Lesanpuro.
“Pelaksanaan seminggu 3x…. utk tiap jumat kita namai jumat berkah,”Jelas Drg Dinna.

Saat ditanya soal rahasia Kelompok Budaya Kerja(KBK)GRAPYAk , dengan Inovasi Jek Food .Dia memaparkan dengan gamblang bahwa dalam stratifikasi masalah,Pertama tingginya angka ibu hamil yang berjumlah 112, karena kEK (kurangnya Energi kronik), kemudian tingginya angka Balita dibawah garis merah ada sejumlah 293 yang ditangani berhasil ditingkatkan gizinya 68, dan yang ketiga rendahnya cakupan layanan pada Balita,
Inovasi Jek Food, Kemudian sama Dinkes  juga diadopsi, terutama untuk pemberian PMT (pemberian makanan tambahan)kepada balita gizi kurang di lingk dinkes, tdk hanya gribig.
Dinkes yg mengadopsi inovasi ini,dengan harapan  bisa diaplikasikan ke puskesmas lain…. bahkan sangat didukung oleh dinkes,” tandasnya bangga.


“Langkah awal adalah mencari alternatif solusi dari adalah yang ada, yakni kurang teraturnya distribusi makanan tambahan kurang teratur, makanan tambahan kurang variatif, partisipasi kurang, minimnya tenaga posyandu, dan minimnya pendidikan orang tua bayi. “

“Solusinya yang pertama agar teratur adalah membentuk Jek Food, menambah variasi makanan tambahan, untuk kader yang minim perlu adanya penambahan dan regenerasi kader posyandu, menambah intensitas sosialisasi  ‎pada masyarakat, menambah intensitas sosialisasi status gizi pada ibu hamil dan menyusui.” papar alumni FK Unej ini nyakin.

Terbentuknya Jek Food, lanjut ibu arema asli lulusan SMAN 5 kota Malang itu disokong dana dari tiga sumber, ” yakni swadaya masyarakat, jimpitan dan iuran, ‎hingga kini berjalan lancar hingga dalam 5 bulan bisa menurunkan sampai  60 ,29% dari target bayi dibawah garis merah(BGM), ke depan tahun 2019, kami optimis bisa menekan hingga tinggal 20%, ” tandasnya berharap. (drz)