Ketika Lingkungan Dijadikan Panggung Pengakuan

Oleh : Mohammad Masduki

Banyak orang mengira konflik sosial lahir karena persoalan besar: ekonomi, politik, atau perebutan kekuasaan tingkat tinggi. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, gesekan paling melelahkan justru sering lahir dari hal sederhana di lingkungan kecil bernama RT. Terutama di kawasan perumahan baru.

Warga sebenarnya belum benar-benar saling mengenal. Mereka datang dari latar belakang berbeda, membawa kebiasaan berbeda, tingkat ekonomi berbeda, bahkan ego sosial yang berbeda. Karena itu, yang sering terjadi bukan sekadar proses membangun lingkungan, tetapi juga pertarungan mencari pengakuan.

Ada orang yang sebenarnya tidak pernah ingin menjadi ketua RT, tidak ingin memikul tanggung jawab, tidak siap menghadapi komplain warga, bahkan tidak ingin repot mengurus persoalan sosial sehari-hari. Tetapi anehnya, ia selalu ingin menjadi pusat perhatian lingkungan.

Ingin Dianggap Paling Peduli

Saat menyumbang sesuatu, ia berharap namanya disebut. Ia ingin dihormati lebih dibanding warga lain. Jika apresiasinya dianggap kurang, ia mudah tersinggung. Bantuan yang seharusnya lahir dari ketulusan berubah menjadi alat membangun citra sosial.

Dalam kondisi seperti ini, hubungan sosial perlahan kehilangan keikhlasan. Lingkungan tidak lagi dipandang sebagai ruang kebersamaan, tetapi arena pembentukan pengaruh. Orang mulai sibuk mengukur siapa paling dominan, siapa paling didengar, siapa paling dekat dengan pengurus, dan siapa paling mampu mengendalikan opini warga.

Yang lebih melelahkan, sebagian dari mereka ingin ikut mengatur banyak hal tanpa mau masuk ke dalam tanggung jawab formal.

Mereka tidak ingin bahkan menolak dan menghindar jika dipilih sebagai ketua RT karena sadar jabatan itu penuh risiko sosial. Tetapi mereka juga tidak rela jika keputusan lingkungan berjalan tanpa persetujuan mereka. Akibatnya muncul pola tarik-menarik pengaruh yang sering tidak sehat.

Ketika keputusan RT sesuai keinginannya, suasana dibuat tenang. Tetapi ketika tidak sesuai, mulailah muncul pengelompokan warga, bisik-bisik sosial, sindiran halus, hingga upaya membangun opini bahwa pengurus lingkungan tidak adil bermasalah dan seterusnya.

Ironisnya, semua itu sering dilakukan bukan demi kepentingan bersama, tetapi demi menjaga posisi psikologis sebagai orang yang ingin terus dianggap penting.

Di titik tertentu, akal sehat masyarakat bisa rusak oleh ego-ego kecil yang dibiarkan tumbuh tanpa kontrol sosial.

Orang yang bekerja justru lebih mudah disalahkan dibanding orang yang hanya pandai membangun citra. Ketua RT yang setiap hari menghadapi komplain warga bisa dianggap tidak becus hanya karena tidak memenuhi keinginan kelompok tertentu. Sementara mereka yang tidak memikul tanggung jawab apa pun tetap ingin memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah lingkungan.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan sekadar persoalan RT. Ini adalah gambaran tentang bagaimana manusia modern sering lebih sibuk mencari pengakuan daripada membangun kebersamaan.

Dan mungkin, dari lingkungan kecil seperti inilah kita mulai memahami mengapa masyarakat mudah terpecah, mudah tersinggung, dan sulit membangun kedewasaan sosial.

Baca Juga:

  • Basah-Basahan Seru di Mako Damkar: Siswa TK-KB Al Ikhlas Malang Belajar Jadi Pemadam Cilik
  • DPRD Malang Mediasi Polemik Izin Aston Inn, Tumpang Tindih OSS Jadi Sorotan
  • Lantik 50 PNS Baru, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat: Ini Amanah Pengabdian, Bukan Sekadar Status
  • Dito Arief Komisi C DPRD Kota Malang: Perda Parkir Baru Atur Bagi Hasil 60:40 Jukir Kini Pakai QRIS