Kisah Guru Pendongeng yang Ditemani Boneka Kia dan Koko

3 December 2018 - 16:42 WIB

SUMENEP (SurabayaPost.id) – Awalnya Fathorrahman tidak menyangka yang ia lakukan akan membuat siswa kecanduan. Ia menyangka mendongeng menggunakan boneka tidak akan disukai siswa, bahkan akan dijadikan bahan tertawaan guru lain. Tapi setelah mendongeng pertama di kelas, para siswa rupanya langsung ketagihan. Ia selalu ditagih siswa untuk berdongeng.

Sebagai guru kelas di SDN Batuputih Laok III, Kecamatan Batuputih Sumenep, Fathor tergerak mendongeng karena melihat situasi. Katanya, 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai mestinya diisi dengan membaca. Tapi karena sekolah tidak punya perpustakaan dan buku terbatas, maka ia berpikir untuk mengisi waktu tersebut dengan mendongeng.

“Saya juga ingin berinovasi dalam pembelajaran. Dan karena minim fasilitas seperti buku, maka saya yang membacakan buku itu kepada siswa. Dengan kata lain, saya mulai mendongeng kepada siswa. Lalu muncullah ide mendongeng menggunakan boneka itu agar siswa tidak bosan,” tutur Fathor, Seni (3/12/2018).

Setelah mendongeng, Fathor mengaku meminta siswa merespon balik, yaitu mendongeng menggunakan bahasa sendiri. Ternyata teknik tersebut dirasa ampuh menumbuhkan kepercayaan diri siswa. Terbukti siswa dengan cepat menarasikan kembali dongeng yang ia sampaikan sebelumnya. Dan yang paling ia syukuri adalah siswa mengikuti pelajaran dengan perasaan lebih ceria setelah mendengar dongeng itu.

Dia sengaja menggunakan boneka berkateristik manusia dan hewan yang diberi nama ‘Kia’ dan ‘Koko’. Itu untuk menarik perhatian siswa agar bisa fokus saat mendengarkan dongeng.

Aktivitas mendongeng tersebut dilakukan Fathor sejak bulan September 2018 lalu. Saat ini teknik tersebut menarik perhatian sekolah lain. Fathor kini sering diundang sekolah lain, SD dan TK, untuk berdongeng. Bahkan hingga bulan April 2019 mendatang, jadwal keliling mendongengnya sudah penuh.

Tapi untuk memintanya berdogeng ke sekolah lain harus seizin instansi yang menaungi, karena itu berkaitan dengan kedinasan. Dengan kata lain, permintaan berdongeng tersebut bukan ditujukan kepada Fathor, tapi instansi yang menaungi.

“Kalau misi saya mengisi di sekolah lain itu adalah mengajak guru-guru untuk kembali ke budaya sendiri, yaitu mendongeng. Saya ingin itu tetap dirawat,” ujarnya.

Selain di sekolah, Fathor juga berdongeng kepada anak-anak yang mengaji di musala miliknya setelah salat magrib. Tetapi materinya beda dengan yang di sekolah. Untuk anak-anak yang mengaji tersebut diceritakan kisah-kisah keteladanan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

“Sebenarnya ini juga bagian literasi yang mau saya galakkan,” jelas Fathor. (mat)