Lagi, IBU Berangkatkan Tiga Mahasiswa Mengajar di Thailand

1 March 2019 - 16:35 WIB
Tiga mahasiswa IBU Malang didampingi dosen pendampingnya, Jazuli MPd saat tiba di Lembaga pendidikan Lukmanulhakeem Yala Thailand.
Tiga mahasiswa IBU Malang didampingi dosen pendampingnya, Jazuli MPd saat tiba di Lembaga pendidikan Lukmanulhakeem Yala Thailand.

MALANG  (SurabayaPost.id) –  IKIP Budi Utomo (IBU) Malang memberangkatkan lagi tiga mahasiswa ke Thailand. Mereka diberi tugas mengajar di Yayasan Pendidikan Lukmanulhakeem Yala, Thailand.

Di antara ketiga mahasiswa tersebut adalah Wahyu Yasinta, Nur Diana Ningsih dan Anis Fulka Bia’ yuni. Mereka didampingi dosen pendamping yaitu  Jazuli MPd. 

Menurut Rektor IBU Malang, Dr Nurcholis Sunuyeko, ketiga mahasiswa itu merupakan pemberangkatan gelombang kedua. Pada gelombang  pertama sebanyak tujuh mahasiswa.

“Pada gelombang kedua ini memang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Itu karena ada ada dua perguruan tinggi lain yang juga mengirimkan mahasiswanya ke Yayasan  Lukmanulhakeem Yala, Thailand,” kata Rektor Nurcholis yang diamini Kepala Pusat Kerjasama dan Humas IKIP Budi Utomo Malang, Dr Rochsun MKes.

Mahasiswa IBU Malang bersama para guru di Lukmanulhakeem Yala Thailand.
Mahasiswa IBU Malang bersama para guru di Lukmanulhakeem Yala Thailand.

Menurut dia, para mahasiswa yang dikirim ke Thailand diakui Yayasan Lukmanulhakeem sangat mengesankan. “Alhamdulillah mereka terkesan. Para mahasiswa pun sangat terkesan saat di sana,” kata dia, Jum’at  (1/3/2019).

Hal itu juga diakui Wahyu Yasinta. Mahasiswa IBU Matematika semester 6 ini  mengaku sangat kerasan. “ Alhamdulillah kami kerasan di Thailand,” kata dia.

Menurut Wahyu Yasinta sambutan orang-orang Thailand  sangat baik. Sebab, selain disediakan tempat tinggal juga diberi makan gratis di rumah ustadz Hafiz di Thailand.

Meski begitu, kata dia,  bukan berarti tak ada kendala terkait makanan. “Makanan memang agak beda dengan Indonesia. Sebab, di Thailand makannya sedikit asam,” kata dia saat dihubungi via telepon di Thailand.

Selain itu, kata dia, terkait bahasa dan budaya. “Kalau bahasa, mereka menggunakan tulisan latin Thailand. Bahasa Inggris banyak yang belum bisa,” katanya.

Karena itu dia menerapkan pembelajaran model Indonesia. “Mereka sangat tertarik. Sehingga mudah memahami. Terutama yang berkaitan dengan belajar menghitung,” tandasnya. (gus)