Rektor UMM: Tantangan PT di Era Pendidikan Pragmatis

6 April 2019 - 01:01 WIB
Komitmen UMM untuk Indonesia yang dimanefestasikan lewat defile dalam satu kegiatan.
Komitmen UMM untuk Indonesia yang dimanefestasikan lewat defile dalam satu kegiatan.

MALANG  (SurabayaPost.id) – Perguruan Tinggi  (PT) dinilai berhasil jika sukses mencetak mahasiswa yang siap bekerja. Sebaliknya, PT dinilai gagal mendidik jika mahasiswanya sulit mendapatkan pekerjaan.  

“Ya itulah tantangan perguruan tinggi  (PT) di era pendidikan pragmatis. Semuanya diukur lewat kesuksesan materi,” kata Rektor UMM, Dr Fauzan MPd, Jum’at  (5/4/2019).

Padahal, lanjut dia, keberhasilan pendidikan itu tak hanya dilihat dari aspek materi semata. Namun, juga aspek lain yang bersifat non-materi.

Dia contohkan seperti integritas, moralitas dan kepribadian. Menurut dia, perguruan tinggi bisa dikatakan sukses jika berhasil mencetak mahasiswa yang memiliki skill, integritas, moralitas dan kepribadian yang baik.

Untuk itu, UMM memiliki cara khusus untuk mencetak mahasiswa yang paripurna itu. Dicontohkan seperti lewat  festival kebangsaan yang bakal dihadiri Wapres Jusuf Kalla dan mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri.

Itu karena nuansa kebangsaan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) termanifestasi dari berbagai kehidupan kampus yang majemuk, terbuka (open minded) dan harmonis. Puluhan ribu mahasiswa dari berbagai penjuru Tanah Air dan mancanegara beraktivitas dalam kebersamaan dan penuh persaudaraan.

“Mereka seperti berada di sebuah miniatur Indonesia. Mereka merasa nyaman berinteraksi dalam berbagai perbedaan,” jelasnya.

Nuansa ini juga dibangun dan dipelihara menjadi nilai-nilai yang menjiwai tumbuh kembangnya universitas Muhammadiyah terbesar ini. Hal ini Nampak dari berbagai aktivitas yang melibatkan lintas suku, lintas agama, lintas komunitas dan lintas negara.

Berbagai even besar terkait isu-isu kebangsaan dan kemajemukan kerap menjadi primadona mahasiswa dan masyarakat secara umum. Bersamaan dengan momentum kebangsaan saat ini, UMM kembali terpanggil untuk menggelar suatu even yaitu  Festival Kebangsaan II.

“Ini adalah sebuah even untuk merayakan nilai-nilai kebangsaan sekaligus untuk mempersatukan gagasan. UMM ingin berperan aktif dalam bridging the gap, menjembatani jarak antar perbedaan menuju kebersamaan,” kata Dr Fauzan MPd.

Menandai momentum ini pula, UMM bermaksud me-launching infrastruktur terbaru yang tuntas dibangun pada tahun 2019 ini. Yakni berupa Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV, Hotel Pendidikan Kapal Garden Hotel, jembatan, dan Rumah Susun Mahasiswa di lingkungan Rumah Sakit UMM.

Momentum tersebut menurut dia sangat  tepat bila diresmikan tokoh nasional yang memiliki perhatian pada isu keberagaman. Makanya, kata dia, Festival Kebangsaan yang digelar kali ini mengambil tema “Mengukuhkan Semangat Kebhinekaan menuju Indonesia Berkemajuan”.

Menurut dia hal itu bakal menghadirkan salah satu tokoh bangsa. Yakni Wakil Presiden Republik Indonesia Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla. Dihadirkannya Jusuf Kalla atas pertimbangan kontribusinya pada harmonisasi kehidupan Kebhinekaan. Selain itu kedekatannya dengan Muhammadiyah.

Apalagi PP Muhammadiyah menganugerahkan Muhammadiyah Award pada Jusuf Kalla, tepat di hari peringatan Milad Persyarikatan Muhammadiyah.  Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, penganugerahan itu sebagai wujud penghargaan tertinggi atas dedikasinya kepada bangsa.

Penghargaan tertinggi tersebut diberikan kepada Jusuf Kalla sebagai tanda terima kasih dan penghormatan PP Muhammadiyah. Jusuf Kalla dinilai sebagai tokoh bangsa yang sangat berperan penting dan penuh pengabdian dalam menyelesaikan konflik serta membangun perdamaian dan kemanusiaan.

Jusuf Kalla dinilai telah menggoreskan sejumlah kepeloporan dan kiprah nyata dalam merekatkan  integrasi nasional. Kedekatan Jusuf Kalla dengan organisasi Muhammadiyah sudah berlangsung lama. Itu pun bukan tanpa alasan. Sebab, Jusuf Kalla mengaku sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan keluarga Muhammadiyah.

Bahkan Sang Ibu, Athirah Kalla, pernah tercatat sebagai pengurus Aisyiyah di Makassar. Bagi Jusuf Kalla, Aisyiyah sudah menjadi pelopor bagi negara, terutama dalam bidang pendidikan dan gerakan perempuan.

Lawatan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ke Kampus Putih sebetulnya pernah dilakukan sebelumnya di tahun 2014. Jusuf Kalla datang ke UMM bersama Megawati dalam kesempatan penganugerahan UMM Award untuk Tokoh Bangsa yang menjatuhkan pilihan kepada suami Megawati, Dr (H.C.) H. Muhammad Taufiq Kiemas. Jusuf Kalla ketika itu berstatus sebagai Wakil Presiden RI ke-10.

Kehadiran Jusuf Kalla bersama Megawati saat itu juga sekaligus untuk meresmikan Rumah Sakit UMM. Megawati berpesan, agar melalui pendirian rumah sakit ini, juga akan semakin banyak lahir dokter-dokter profesional.

Pada kesempatan tersebut Megawati menyumbang lima unit ambulans kepada RS UMM. Pernyataan itu diterima langsung Rektor UMM ketika itu, Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P.

Karena itu, dalam festival yang menjadi puncak dari beberapa even di UMM sebelumnya ini akan digelar Rembug Kebangsaan, Gelar Seni Budaya Tradisional, Gelar Karya Produktif Dosen dan Mahasiswa, serta ditutup dengan peresmian infrastruktur baru milik UMM. “Kita harapkan semoga semuanya berjalan lancar dan sukses,” pungkasnya.   (aji)