MALANG (SurabayaPost.id) – Rektor Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang, Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H., M.H., menegaskan bahwa Gelar Karya Mata Kuliah Proyek Kepemimpinan bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru bukan sekadar ujian akhir, melainkan pembuktian menjadi pemimpin yang mendidik.
Hal itu disampaikan Prof. Suko dalam sambutannya saat membuka Gelar Karya Mata Kuliah Proyek Kepemimpinan PPG Bagi Calon Guru di lingkungan Unidha Malang, Rabu (4/11/2026).
“Yang saya hormati, Para Wakil Rektor, Dekan, Ketua LPTK, dan yang saya banggakan seluruh Mahasiswa PPG. Hari ini bukan sekadar ujian. Hari ini adalah pembuktian bahwa Anda tidak hanya belajar menjadi guru yang mengajar, tetapi sedang berproses menjadi pemimpin yang mendidik,” ujar Prof. Suko mengawali sambutannya.
Menurutnya, tantangan guru hari ini jauh berbeda dengan 10 atau 20 tahun lalu. Jika dulu guru dituntut menguasai materi, kini guru dituntut menjadi pemimpin.
“Mata kuliah Proyek Kepemimpinan ini dirancang bukan untuk mencetak administrator, melainkan untuk menumbuhkan teacher leadership. Kepemimpinan guru itu tidak menunggu jabatan kepala sekolah. Kepemimpinan itu hadir sejak ia masuk kelas,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kepemimpinan guru tercermin dari bagaimana memimpin perubahan kecil, menggerakkan murid yang kehilangan motivasi, berkolaborasi dengan orang tua, dan menjadi agen perubahan di sekolah.
“Yang kita nilai bukan seberapa tebal laporan Anda, bukan seberapa bagus poster Anda, tapi seberapa besar dampak dan keberanian Anda dalam menyelesaikan masalah nyata di satuan pendidikan,” jelasnya.
Prof. Suko mengaku bangga dengan karya-karya yang ditampilkan mahasiswa. Dari laporan yang diterimanya, terdapat beragam inovasi seperti Gerakan Literasi Sekolah Berbasis Kearifan Lokal, pengembangan pojok inklusi untuk anak berkebutuhan khusus, program anti-bullying dengan pendekatan sebaya, hingga inovasi pembelajaran berbasis digital untuk daerah 3T.
“Ini menunjukkan mahasiswa PPG kita tidak hanya berpikir teoritis, tetapi sudah bertindak sebagai problem solver. Inilah yang membedakan PPG dengan program akademik biasa. PPG adalah program profesi yang harus memiliki jiwa kepemimpinan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Prof Suko menitipkan tiga pesan penting kepada seluruh calon guru.
Pertama, Jadilah Pemimpin Pembelajar (Leader as Learner). Guru diminta untuk tidak pernah berhenti belajar karena kurikulum akan berganti, teknologi berubah, dan karakter anak berbeda setiap tahun.
“Gelar karya hari ini jangan menjadi garis finish. Jadikan ini titik awal untuk terus melakukan refleksi dan inovasi. Guru yang berhenti belajar, berhenti menjadi guru,” pesannya.
Kedua, Jadilah Pemimpin yang Melayani (Servant Leadership). Menurutnya, kepemimpinan dalam pendidikan bukan tentang kuasa untuk memerintah, melainkan ketulusan untuk melayani, terutama murid yang paling tertinggal dan sering tidak terlihat.
“Disitulah letak kemuliaan profesi guru,” ujarnya.
Ketiga, Jadilah Pemimpin yang Berkolaborasi. Tidak ada guru hebat yang bekerja sendirian. Proyek yang berhasil lahir dari kolaborasi dengan kepala sekolah, rekan guru, orang tua, masyarakat, dan murid itu sendiri.
“Bangunlah ekosistem, bukan ego-sistem,” tegasnya.
Di akhir sambutan, Prof. Suko menyampaikan terima kasih kepada para dosen pengampu mata kuliah yang telah membimbing mahasiswa dengan penuh kesabaran, sehingga tugas akhir berubah menjadi pengalaman kepemimpinan yang bermakna.
Ia berharap karya-karya yang ditampilkan tidak hanya berhenti sebagai pajangan pameran, tetapi dapat direplikasi, dikembangkan, dan benar-benar memberi manfaat bagi sekolah dan masyarakat.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, acara Gelar Karya Mata Kuliah Proyek Kepemimpinan PPG Bagi Calon Guru secara resmi saya nyatakan dibuka,” pungkasnya. (lil).
