Siapkan Rp 4 Triliun Untuk PEN, OJK-Bank Jatim Identifikasi Potensi Pembiayaan

12 August 2020 - 22:55 WIB
Direktur OJK Regional 4 Jatim Bambang Mukti Riyadi menyerahkan secara simbolis penyaluran pembiayaan untuk petani hortikultura.

BATU (SurabayaPost.id) – Dana pembiayaan untuk memacu pemulihan ekonomi nasional di Jatim pada masa pandemi Covid-19 ini sebesar Rp 4 triliun. Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Jatim turun “gunung”.

Mereka melakukan identifikasi sektor potensial di daerah yang bisa didukung lewat pembiayaan. Kota Batu dipilih menjadi daerah yang dikunjungi untuk identifikasi potensi tersebut, Rabu (12/8/2020).

Kepala OJK Regional 4 Jatim, Bambang Mukti Riyadi memimpin tim identifikasi tersebut. Dia didampingi Direktur Keuangan Bank Jatim Ferdian Timur Satyagraha dan Kepala OJK Malang Sugiarto Kasmuri serta pakar ekonomi Universitas Brawijaya Malang Prof Dr Chandra Fajri Ananda.

Direktur OJK Regional 4 Jatim Bambang Mukti Riyadi bersama rombongan saat audiensi dengan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko

Sebelum turun ke lapangan, rombongan yang dipimpin Bambang Mukti Riyadi itu melakukan audiensi dengan Wali Kota Batu, Dewanti Tumpoko. Pada kesempatan itu Dewanti menguraikan tentang potensi wisata dan pertanian.

Dia menjelaskan jika pada masa pandemi Covid-19 ini, sektor wisata dan pertanian mulai bergeliat lagi. “Kalau OJK bersama Bank Jatim mau mendorong sektor tersebut lewat pembiayaan yang lunak, kami sangat berterima kasih. Monggo diidentifikasi sektor apa yang bisa didorong lebih cepat sebagai prioritas. Semoga potensi Kota Batu bisa menjadi favorit utama dalam PEN,” katanya.

Kepala OJK Regional 4 Jatim Bambang Mukti Riyadi tak membantah soal potensi wisata dan pertanian di Kota Batu. Sebab, kawasan pertanian –khusus hortikultura saja– di wilayah Kota Batu lebih 5000 hektar.

Makanya, rombongan OJK dan Bank Jatim itu mengunjungi dan menyurvei beberapa pusat pertanian di Kota Batu. Di antaranya, pertanian sayur di Desa Sumber Brantas Bumiaji, pertanian apel Bumiaji, perkebunan jeruk Desa Punten, dan perajin kayu di Desa Rejoso.

Direktur OJK Regional 4 Jatim Bambang Mukti Riyadi berdialog dengan petani hortikultura di kawasan Sumber Brantas Kota Batu

Menurut Bambang Mukti Riyadi ada dana pembiayaan Rp 4 triliun yang disiapkan untuk PEN. Dana dari Bank Jatim itu akan disalurkan untuk mendorong sektor-sektor potensial di daerah. Sehingga bisa menjadi motor pemulihan ekonomi di Jawa Timur.

“Jatim secara spesifik punya target penyaluran Rp 4 triliun. Itu untuk sektor-sektor potensial yang bisa menjadi pendorong ekonomi Jatim. Kita punya target sampai Desember untuk membiayai sektor ekonomi unggulan di Jatim ini. Makanya kita harus kerja keras ini,” jelas pria yang akrab disapa Bambang ini.

Untuk itu, tegas dia, Direktur Keuangan Bank Jatim Ferdian Timur Satyagraha diajak ke lapangan melakukan identifikasi. Harapannya, kata dia, agar mengetahui secara pasti sektor-sektor potensial di lapangan termasuk permasalahannya.

Untuk itu, mereka melakukan audiensi langsung bersama para petani. Misalnya, dengan petani sayur Desa Sumberbrantas.

Dalam audiensi itu petani mengungkapkan persoalannya selama masa pandemi. Mereka tak bisa mengirim komoditas hasil pertaniannya. Misalnya kentang, wortel, brokoli, sawi ke daerah lain seperti Bali, Surabaya, Kalimantan dan lainnya.

Direktur OJK Regional 4 Jatim Bambang Mukti Riyadi didampingi Kepala OJK Malang Sugiarto Kasmuri kala berdialog dengan petani

Meski begitu, mereka tetap eksis. Bahkan masih bisa membayar kreditnya ke Bank Jatim secara normal.

Hal itu diakui Direktur Keuangan Bank Jatim, Ferdian Timur Satyagraha. Menurut dia, sektor pertanian di Jatim potensinya masih cukup besar. Dia berharap dana yang disalurkan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Untuk sektor pertanian diakui dia, tidak hanya komoditas sayuran. Namun, padi dan tebu juga sangat potensial. Sebab, permintaan untuk beras sangat tinggi. Begitu juga tebu untuk gula. Menurut dia, relatif stabil.

“Karena itu potensi paling besar di sektor pertanian. Itu sekitar 60 -70 persen dari total Rp 4 triliun. Sedangkan yang tersalurkan baru Rp 800 miliar. Jadi benar kita harus kerja keras lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala OJK Malang Sugiarto Kamuri mengakui bila sektor pertanian dan wisata masih menjadi primadona. “Selain itu, sektor perdagangan dan industri pengolahan. Itu yang harus kita dorong,” jelas dia. (aji)