Syahrul Munir, Wakil Komisi III DPRD Gresik Saksi Pemakaman PDP Yang di Covid-kan

24 June 2020 - 12:44 WIB

Beliau adalah Ibu Kapiyah. Sewaktu kecil hingga sekarang aku memanggilnya Mak Ya. Jalur keluarga yang saya sendiri tidak tau asal usulnya, tapi memang saking dekatnya karena rumahnya persis sebelah depan rumah saya.

Sore itu saya kaget ketika dapat telfon dari pihak keluarga bahwa Mak Ya mau dirujuk dari RS Fatma Medika Manyar ke RS MU Sekapuk padahal hasil rapid test nya NON REAKTIF. Saya pun meminta penjelasan dari pihak RS. Ternyata beliau infeksi Paru-paru.
Sebenarnya menggoncang jiwa, mengapa Mak Ya harus di PDP kan.

Oke, saya terima. Saya telfon pihak keluarga dan saya meminta untuk bersabar dan mengikuti seluruh prosesnya. Akhirnya dirujuklah Mak Ya ke RS MU Sekapuk, karena RSUD PENUH. Dengan konfirmasi bahwa swab test akan keluar sekitar 3 hari. Ini pelayanan yang seringkali dikeluhkan oleh keluarga-keluarga pasien kenapa begitu lama hasil swab keluar. Berbiaya juga ternyata, sekitar 2,5 juta.

Selang sekitar 2 hari, pada siang hari saya dapat kabar bahwa beliau dalam kondisi kritis. Tetangga saya yang lebih dulu memberi kabar soal ini. Akhirnya saya telfon pihak keluarga. WALHASIL, cerita-cerita yang menyayat hati mulai terkuak.

Pertama, Mak Ya harus dikumpulkan dengan pasien-pasien PDP lain sedang ia dalam kondisi membutuhkan pendampingan ekstra oleh pihak keluarga. (Ini pasti debatable, demi menjaga keselamatan jiwa yg lain pasti alasannya). Toh, hasil rapid test nya NON REAKTIF.

Kedua, pihak keluarga dipungut bayar untuk APD setiap kali masuk jenguk. Informasi ke saya saat telfon adalah Rp. 350 ribu untuk sekali masuk. Info terakhir Rp. 400rb kemudian ditawar jadi Rp.300rb sekali masuk. Padahal PEMKAB sudah menganggarkan untuk kecukupan APD bagi rumah sakit khususnya RS Rujukan. 300 Milyar lebih utk penanganan COVID 19. Tapi melihat besaran nominal dan HASIL dari pelayanan di Masyarakat, IT’S NOT WORTHY.

Ketiga, dari cerita keluarga, Mak Ya mengeluhkan sesak nafas karena mengaku shock dengan pasien sebelahnya yang meninggal lebih dulu. Memang dari dulu Mak Ya seringkali ngumpet jika ada tetangga yang meninggal. Betapa shocknya saat itu beliau dg kondisi bersebelahan langsung dg pasien meninggal. Namun ketika itu saya masih positif thinking bahwa masih ada harapan untuk sembuh karena masih bisa diajak ngobrol. Tapi pihak keluarga sudah mewanti-wanti untuk persiapan yang lebih buruk. Sementara dikabarkan pula oleh pihak RS bahwa swab mundur 5-6 hari dari yg sebelumnya dijanjikan 3 hari. Apa sebegitu lemotnya fasilitas penunjang kesehatan ini yaaaaa?????? Jawabannya IYA.

Hmmmm. Saya menghela napas. OKE, mudah-mudahan jika terjadi hal terburuk, warga semua siap dan tanpa panik untuk menghadapi segala hal ini. Karena resiko psikologis masyarakat paling dipertaruhkan jika hal itu terjadi. Sementara swab juga BELUM KELUAR.

Walhasil, Tepat antara Adzan Sholat Subuh dan Iqomah, pihak keluarga menelpon saya dan memberi kabar INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UUN. MAK YA BERPULANG KE ROHMATULLAH.

OKE, saya bergegas ke musholla untuk mengabari warga dengan segera sehabis jamaah shubuh, mohon JANGAN PANIK. INSYA ALLAH TIDAK ADA APA-APA! (maksud saya tidak perlu takut secara berlebihan). Masyarakatpun menerima. Tidak ada kepanikan untuk itu, Alhamdulillah. Setelah itu saya ke Rumah Kades dan ke Takmir Masjid, kita berbicara kemungkinan terburuk dan pola penghormatan jenazah yang kami anggap terbaik.

Semua berjalan sesuai harapan dg keputusan bahwa Pihak keluarga menyolatkan di Aula Rumah Sakit, sedangkan warga menghormat jenazah dengan sholat ghoib ba’da Jamaah Jum’at. OKE, tapi Swab belum juga muncul hasilnya.

Relawan Satgas Covid Desa dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan jenazah. Dan semua berjalan lancar. Hingga jenazah datang di pemakaman, namun JENAZAH dimasukkan ke dalam PETI JENAZAH yang SEADANYA, padahal Pemkab sudah menyiapkan peti yang bagus bagi pasien yang diCOVIDkan. Belum lagi ketidak siapan APD dari entah ini RS nya, Puskesmasnya, atau Dinkesnya, sehingga APD yg dipakai relawan desa kita persiapkan secara mandiri. Tentu SANGAT KECEWA dengan bentuk kecerobohan dan miskordinasi prosesi pemakaman seperti ini. Namun, Desa berhasil melewati proses ini dengan sigap dan gotongroyong. Tentu ini bukan dalam rangka saling menyalahkan, namun saling berbenah.!!!
.
PASKA PEMAKAMAN, HASIL SWAB MUNCUL……