BBPPMPV BOE Malang Lakukan Upskilling dan Reskilling Berstandar Industri pada Guru SMK

17 November 2020 - 21:50 WIB
Peserta diklat dari berbagai guru SMK se Indonesia saat mengikuti pelatihan di BBPPMPV BOE Malang

MALANG (SurabayaPost.id) – Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronik (BBPPMPV BOE) Malang melakukan program upskilling dan reskilling guru kejuruan pada SMK berstandar industri. Program tersebut digelar sesuai kebijakan Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemendikbud RI. 

Hal itu diungkapkan  Plt Kepala BBPPMPV BOE Malang, Dr Ir Abd Rochim, MM, Selasa (16/11/2020). Menurut dia, program itu merupakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) kepada pengajar SMK. 

“Materinya terkait teknik instalasi plumbing  dalam gedung dan finishing mebel bangunan. Diklat tersebut sangat diperlukan untuk kesiapan SDM dalam dunia industri,” jelas dia. 

Plt Kepala BBPPMPV BOE Malang, Dr Ir Abd Rochim, MM

Itu mengingat, lanjut dia, Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud mengeluarkan kebijakan tentang terciptanya link dan match atau kesesuaian antara SDM dan ketersediaan pekerjaan.

Makanya, kata dia, Diklat Upskilling dan Reskilling yang merupakan kerjasama dengan Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Industri, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi tersebut sangat penting bagi para guru SMK dari seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh hingga Papua. 

Menurut dia ada 220 peserta yang ikut  kali ini. Mereka terbagi dalam 11  kelas. Tiap kelas ada 20 orang guru SMK yang ikut. 

Mereka menjalani proses beberapa tahapan. Yakni selama 60 jam pembelajaran secara daring.  Itu setara dengan dua pekan. 

Selanjutnya, kata dia, dengan tatap muka atau ruring sekitar 100 jam lamanya. Tempatnya di BBPPMPV BOE Malang. Dalam diklat ini, berisi materi yang berkelanjutan dengan keahlian.

Peserta diklat dari berbagai guru SMK se Indonesia saat mengikuti pelatihan di BBPPMPV BOE Malang

Setelah diklat tatap muka, para guru tersebut mengikuti On The Job Training (OJT) di Industri selama 60 jam. Selanjutnya, menjalani uji Kompetensi di dunia industri selama 40 jam. Tentunya, mengikuti pola dunia kerja di Industri.

“Selama OJT, harus mengikuti budaya kerja di Industri. Karena nantinya, akan ditransfer kepada para siswanya di sekolah. Lalu mengikuti uji kompetensi.  Sehingga benar-benar berkualitas dan berkompeten di bidangnya,” lanjutnya.

Diklat tersebut, kata Rochim, diikuti dari seluruh daerah Indonesia dengan jumlah 220 orang. Terbagi dalam 11 kelas, mengikuti program nasional Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi. Peningkatan kompetensi guru sekolah kejuruan berstandar industri.

Mereka diharapkan, kata dia, setelah ikut diklat dan uji kompetensi itu mampu  menciptakan siswa yang kompeten. “Untuk itu tentunya harus diawali dengan guru yang kompeten ” tutur dia.

Hal itu, terang dia,  sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dari Dirjen pendidikan vokasi. “Yakni outputnya harus  bisa diterima di dunia usaha/industri. Sehingga bisa mengurangi pengangguran,” pungkasnya. (Lil)