Bertahan Ditengah Mahalnya Harga Pakan, Peternak : Kami Bertahan, Agar Usaha Kami Tidak Gulung Tikar

20 June 2022 - 11:25 WIB

GRESIK (SurabayaPost.id)– Kenaikan pakan ternak ayam petelur jenis konsentrat produk pabrikan menjadi penyebab meroketnya harga telor di pasaran. Sejumlah peternak khususnya di Gresik mengaku hasil keuntutungan dari penjualan telornya untuk siasat bertahan agar usahanya tidak gulung tikar.

Supardi Hardi (50) salah satu peternak ayam petelor di Gresik menyampaikan semakin tingginya harga telur ayam dalam 3 bulan terakhir di pasaran ia mengaku tetap mendapatkan untung, meskipun secara hitung hitungan tetap rugi karena untuk menutupi mahalnya pakan ayam sebelum harga telur naik.

“Kalau dibilang untung ya untung. Tapi kan pas harga telur anjlok sementara harga pakan mahal, peternak rugi besar. Semenatara kita hanya bertahan agar usaha yang sudah saya rintis sekian lama bisa bertahan sambil menunggu hatga pakan kembali normal, ” ujar Supardi, Senin (20/6).

Dikatakan Supardi, harga telur ditingkat peternak berkisar 25 ribu rupiah per kilogram. Sedangkan dipasaran mencapai Rp29 ribu hingga Rp30 ribu per kilogramnya. Kondisi ini membuat peternak ayam menengah dengan populasi ayam sekitar 2 ribu ekor hingga 3 ribu ekor mulai kebanjiran pesanan.

“Pedagang terus berdatangan ke kandang demi mendapatkan telur. Bahkan sebagian rela deposit uang karena khawatir tidak kebagian telor, ” tutur Supardi.

Supardi menambahkan sejumlah peternak ayam kelas kecil, banyak yang gulung tikar. Bahkan pada puncaknya saat harga telur hanya laku dijual Rp14 ribu perkilogram, para peternak mengalami buntung.

“Ya gak kuat menanggung rugi. Sebagian peternak gulung tikar dan ganti usaha lain. Karena penghasilan tidak sebanding dengan biaya produksi. Terutama biaya beli pakan, ” pungkas Supardi.

Sementara itu, masyarakat juga sambat akibat kenaikan harga telur yang terus naik di 3 bulan terakhir ini. Pasalnya kenaikan kebutuhan pokok bukanya hanya telur, tapi harga cabe dan sekelompoknya juga ikut melambung.

“Saat ini serba tidak menentu. Yang menjadikan semua terimbas dan membuat kami sebagai masyarakat yang mempunyai penghasilan pas-pasan kebingungan untuk memebelanjakan kebutuhan pokok,” ungkap Suwarsih warga Kebomas Gresik