Dewan Prihatin, Satu Keluarga Tinggal di Bekas Kandang Kambing

7 April 2019 - 23:52 WIB
Bekas kandang kambing yang kini jadi tempat tinggal keluarga Marto

BATU (SurabayaPos.id) – Masyaa Allah… Di balik gemerlapnya kemegahan Kota Batu ternyata masih ada warga  yang tinggal di bekas kandang kambing berukuran 3×5 meter persegi.

Keluarga tersebut sebut saja Marto. Dia bersama istri dan dua anaknya tinggal di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Sebelumnya, Marto bersama keluarganya hidup pindah-pindah. Dia dsn keluarganya menumpang di rumah warga yang menaruh belas kasihan.

Beberapa saat kemudian  dia bertemu Munir. Lalu Marto ditolong. Sebab Munir menghibahkan tanahnya seluas 100 meter persegi.

Ruang tamu tempat tinggal Marto

Lahan tersebut didirikan tempat tinggal. Tempat tinggal itu awalnya dibagi dua. Sebagian untuk kandang kambing,  sebagian lagi dijadikan tempat tinggal.

Setelah kambing dijual untuk memenuhi kebutuhan, kandangnya dijadikan tempat tinggal. Kondisi itu membuat putrinya yang sekolah di SMP minder dan sering murung.  

Itu karena teman-temanya sering minta belajar bareng di rumahnya.  Namun, putrinya malu sehingga selalu menolak permintaan belajar bersama dari teman-temannya itu.

Marto mengaku sempat punya harapan besar. Sebab, awal tahun 2018 ada beberapa orang berseragam dinas dari Pemkot Batu. Mereka mengaku dari Dinas Sosial Pemkot Batu.

“Mereka mendata identitas dan biodata kami sekeluarga. Namun perkembangannya kami tidak tahu. Sebab  sampai saat ini tidak ada kabar,” kata dia pasrah.

Suasana dapur tempat tinggal keluarga Marto

Kondisi keluarga Marto yang tinggal di bekas kandang kambing itu sampai juga ke telinga anggota DPRD Kota Batu, Heli Suyanto. Politisi dari Partai Gerindra ini pun mendatangi rumah Marto kala hujan deras.

Saat itu dia menyaksikan  bagaimana susahnya kehidupan keluarga Marto. Sebab, banyak atap gentingnya yang bocor.  Sehingga, istri dan anak – anak Marto sibuk melindungi alat -alat sekolahnya agar tidak kebocoran.

“Saya saat itu hanya ingin memastikan, cerita yang sesungguhnya dan identitas Marto  sebenarnya. Ternyata informasi itu tak ada yang salah,” kata dia.

Makanya dia mengaku miris. Sebab tempat tinggal Marto yang asli warga Kota Batu itu dinilai tidak layak huni.

“Saya benar-benar miris. Sebab APBD Kota Batu yang hampir Rp 1 triliun per tahun masih ada warganya yang tinggal di rumah yang tak layak huni. Itu sangat memprihatinkan,” papar dia.

Karena itu dia minta agar Dinas Sosial tidak menutupi kondisi riil di lapangan. Sehingga data kemiskinan benar-benar valid dan bisa diatasi dengan baik.

“Tak usah merasa malu. Sampaikan apa adanya. Bagaimana cara mendata angka kemiskinan yang ada di Kota Batu ini. Sehingga bisa dicarikan  solusinya,” tandas Heli. (gus)