Mahasiswa Asing: IBU Malang High Class

6 March 2019 - 13:55 WIB
Rektor IKIP Budi Utomo Malang Dr Nurcholis Sunuyeko MSi (tengah) foto bersama mahasiswa asing saat hendak menuju Yogyakarta.
Rektor IKIP Budi Utomo Malang Dr Nurcholis Sunuyeko MSi (tengah) foto bersama mahasiswa asing saat hendak menuju Yogyakarta.

YOGYAKARTA  (SurabayaPost.id) –  IKIP Budi Utomo (IBU) Malang dinilai merupakan  kampus yang high class. Penilaian itu disampaikan  mahasiswa asing program Darmasiswa dan BIPA yang memilih kuliah di kampus internasional, IBU Malang ini.

“Waww…. luar biasa. IBU Malang high class. Sangat memuaskan,” kata Ram mahasiswa IBU asal  Italia yang diamini beberapa mahasiswa asing lainnya, saat  meninggalkan Kota Malang menuju Yogyakarta, Selasa (5/3/2019).

Pengakuan Ram itu juga diamini mahasiswa asing lainnya. Seperti  Long. Cheng Lee, Muchtar, Samif, Denis, Claudia, Manuel, Jackline dkk yang berasal dari negara berbeda.

Mereka merasa tak salah memilih kuliah di kampus IBU Malang, Jatim. Alasannya, karena pengetahuan dan keterampilan yang mereka timba tak hanya di dalam kelas. Namun, juga dilaksanakan di dunia sosial secara riil.

Mahasiswa asing IBU Malang didampingi Kepala Pusat Kerjasama dan Humas IKIP Budi Utomo Malang Dr Rochsun MKes kala makan malam bersama.
Mahasiswa asing IBU Malang didampingi Kepala Pusat Kerjasama dan Humas IKIP Budi Utomo Malang Dr Rochsun MKes kala makan malam bersama.

Makanya, mahasiswa asing dari berbagai negara itu terlihat antusias saat mengikuti program outing class di Kota Yogyakarta, Jateng. Apalagi sepanjang perjalanan mereka dikawal foreder (Patwal) khusus.

Tak ayal jika mereka merasa senang dan bangga. Sehingga,  kala perjalanan berkali-kali mereka menirukan suara sirine Patwal polisi lalu lintas  (Polantas) tersebut.

“Wing. …wing. ….wing. ….Ayo jalan….,” kata mereka sembari tertawa berbarengan dengan penuh keceriaan.

Keceriaan para mahasiswa asing tersebut dikawal Patwal tentu patut dimaklumi. Sebab, mereka mengakui  bila di negaranya masing-masing selama ini tak pernah dikawal Patwal.

Sedangkan soal pembelajaran di luar kelas, menurut mereka sangat memperkaya pengetahuan yang diperoleh.  Sebab, tak hanya memperlancar bahasa Indonesia yang dipelajari. Namun, juga banyak pengetahuan lain yang didapat. Apalagi dalam pembelajaran outing class itu dikawal dan dipantau langsung Rektor IKIP Budi Utomo Malang, Dr Nurcholis Sunuyeko MSi.

Mahasiswa mancanegara IKIP Budi Utomo Malang kala belapar seni tradisional, gamblang di Rumah Makan Mbah Gito, Yogyakarta.
Mahasiswa mancanegara IKIP Budi Utomo Malang kala belapar seni tradisional, gamblang di Rumah Makan Mbah Gito, Yogyakarta.

Menurut Rektor IBU Malang itu juga menegaskan terkait pembelajaran di luar kelas tersebut. “Pembelajaran outing class itu tak hanya berkaitan dengan bahasa, tapi juga seni dan budaya serta tradisi masyarakat Indonesia,” kata dia yang diamini Kepala Pusat Kerjasama dan Humas IKIP Budi Utomo Malang Dr Rochsun MKes.

Menurut Rektor IBU yang akrab disapa Yai ini, di antara tujuan instruksional khusus (TIK) outing class itu banyak aspek yang bisa diraih. Mahasiswa asing itu tak hanya belajar bahasa Indonesia secara langsung, berkomunikasi dengan masyarakat.

Namun, lanjut dia, juga bisa belajar seni, budaya dan tradisi masyarakat. “Itu karena materi pembelajaran tersebut  bisa saja diperoleh saat melakukan transaksi ekonomi. Misalnya, kala belanja,” kata dia memberikan contoh.

Karena itu, terang Yai, mahasiswa asing itu diajak belajar di luar kelas. Termasuk mereka diajak ke Yogyakarta kali ini. Mereka dilepas di Yogyakarta selama tiga hari.

Ada beberapa lokasi yang dijadikan tempat pelajaran bagi mereka. Di antaranya destinasi wisata Tebing Breksi, Kaliurang, Lava Tour, Museum Sisa Hartaku, Batu Alien, Kaliurang. Selain itu, Dagadu Yogyakarta, Pusat Kerajinan Perak Kotagede, dan Malioboro.

“Mereka sengaja kami diturunkan di kawasan-kawasan tersebut. Harapannya, agar mereka bisa belajar sambil refreshing,” pungkasnya. (aji)