Rektor UMM: Pembelajaran Semua Mata Kuliah Harus Berbasis Budaya

18 April 2019 - 22:55 WIB
Rektor UMM Dr Fauzan MPd (suaramuhammadiyah)
Rektor UMM Dr Fauzan MPd (suaramuhammadiyah)

MALANG  (SurabayaPost.id) – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang  (UMM), Dr Fauzan MPd melakukan terobosan baru untuk memberikan pendidikan karakter bagi mahasiswa. Sehingga lulusan UMM itu berbudaya dan bermartabat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pendidikan  karakter itu, menurut Fauzan, tidak harus diberikan lewat mata kuliah khusus dan tersendiri. “Namun  bisa diimplementasikan lewat seluruh mata kuliah yang diajarkan,” kata Fauzan, Kamis (18/4/2019).

Menurut dia, melalui model semacam itu maka hasilnya akan lebih optimal. Terutama  dalam menanamkan jiwa nasionalisme terkait keberagaman di Indonesia. “Sebab, pendekatannya  dilakukan lewat budaya,” tandasnya.

Meski begitu dia menyadari bila tidak mudah untuk meyakinkan semua pihak. Menurut pria ramah ini, butuh waktu dan kesabaran.

“Tapi semua itu  harus tetap dilaksanakan. Sehingga, semua pihak menyadari manfaat pembelajaran yang berbasis budaya itu dalam berbangsa dan bernegara,” papar dia dengan penuh harap.

Dosen Prodi PGSD UMM Dyah  Worowirastri Ekowati
Dosen Prodi PGSD UMM Dyah  Worowirastri Ekowati

Harapan Rektor UMM tersebut tampaknya sudah mulai mendapat respon positif dari para civitas akademika kampus putih ini. Buktinya, dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMM sudah mengenalkan budaya lewat matematika.

Di antara para dosen tersebut adalah Dyah  Worowirastri Ekowati, Dian Ika Kusumaningtyas dan Nawang Sulistrani. Mereka mengenalkan budaya lewat matematika.

Mereka menulis buku Ethnomatika. Buku tersebut diakui terilhami keanekaragaman budaya nusantara.

Dijelaskan  Dyah bahwa Ethnomatika itu berasal dari kata Etnik (kebudayaan) dan Matematika. Secara harfiah bisa diartikan pembelajaran matematika dengan menggunakan budaya sebagai medianya.

“Jadi siswa tidak hanya belajar saja. Tetapi mereka juga bisa mengenal budaya nusantara lewat matematika,” ujarnya.

Dilanjutkan Dyah, Ethnomatika pertama kali diperkenalkan D’Ambrosio, seorang matematikawan Brasil tahun 1977. Namun dalam perjalanannya mengalami perkembangan dan mulai dikenal luas di berbagai belahan dunia.

Itu karena, kata dia, pembelajarannya lebih efektif dan simpel melalui media yang ada di sekitar siswa. “Pembelajaran matematika khususnya untuk anak SD, musti diajari sesuatu yang konkrit. Jadi tidak bisa hanya menjelaskan materi dan memberikan soal saja. Karena di Matematika, ada program yang dinamakan Matematika Realistik. Menggunakan benda-benda realistik yang ada di sekitar. Itu bisa dilakukan  lewat budaya,” bebernya.

Dicontohkan dia permainan engklek. Secara tidak langsung, menurut dia,  siswa juga belajar Matematika saat melewati petak yang sudah diberi angka dan menghitung jumlah angka yang dilewati.

Selanjutnya, kata dia, membentuk rumah adat yang terdiri atas bangun datar apa saja dan membentuk kelompok yang terdiri dari segitiga dan lainnya. Lalu, sambung Dyah, melalui permainan Engklek siswa juga diajak bermain dengan membentuk rumah adat berdasarkan kelompok-kelompok yang telah dibagi.

Kemudian, katanya,  siswa dipersilahkan memadupadankan antar kelompok.  Sehingga membentuk rumah adat dari bangun datar-bangun datar tersebut.

Untuk itu, ditegaskan dia, bila penerapan buku tersebut  telah dilakukan dalam penelitian dan pengabdian di sekolah-sekolah. “Ini adalah bagian dari Pengembangan program Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) dalam pembuatan buku yang diperuntukkan bagi dosen. Lahir tahun 2017 dan untuk proses cetak lanjutannya tahun ini,” jelasnya.

Melalui metode ini, kata dia, pertama  Matematika menjadi lebih realistis. Kedua, pembelajaran Etno (melalui observasi) merupakan wahana belajar sambil bermain dan outdoor learning bagi siswa.

Ketiga, memperkenalkan kebudayaan kepada siswa. “Dengan begitu diharapkan mereka memiliki kepedulian untuk melestarikannya,” ungkapnya.

“Yang terakhir tentu saja memacu siswa untuk terus mensyukuri kenikmatan Tuhan atas benda di sekitar kita. Nilai ini sesuai dengan nilai karakter dalam kurikulum 2013. Demikian keunggulan dari pembelajaran berbasis Ethnomatika yang kami garap dalam buku ini,” katanya.

Karena itu, kata dia, belajar Matematika itu tidak abstrak. Sebab bisa  diterapkan dalam kehidupan nyata. “Karena bagi saya belajar Matematika itu bukan hanya bicara tentang rumus. Lebih dari itu, Matematika adalah aktivitas dan bahasa dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas. (aji)