Tinggalkan Wamena, Ratusan Warga Difasilitasi  Gubernur Menuju Asalnya 

2 October 2019 - 20:41 WIB

MALANG (SurabayaPost.id)   Sebanyak 120 warga korban kerusuhan Wamena, Papua tiba di Kota Malang, Rabu (2/10/2019. Ratusan warga yang sebagian besar warga Jatim  disambut Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Bandara Abdul Rachman Saleh Malang. 

Lalu, mereka dikumpulkan di Bakorwil Malang untuk didata. Setelah itu mereka difasilitasi Pemprov Jatim untuk pulang ke tempat asalnya masing-masing. 

Sesuai data, dari 120 warga itu sebanyak 105 orang dewasa. Sedangkan sisanya, 15 orang adalah anak-anak, termasuk Balita. 

Frisca bersama dua anak dan adiknya saat di Malang.

Mereka berasal dari Probolinggo,  Pasuruan, Bojonegoro, Jember dan Madura. Bahkan ada yang berasal dari Aceh Tenggara, Sumatera. 

Mereka dievakuasi dari Wamena menggunakan pesawat C 130 Hercules A-1305. Tiba di Bandara Abdul Rachman Saleh Malang sekitar pukul 14.50 WIB. 

Setiba di Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, mereka disambut Gubernur Khofifah Indar Parawansa bersama para pejabat Forkopimda Malang Raya. Tampak Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander dan Dandim Kota Malang Letkol Tommy Anderson. 

Para korban kerusuhan itu tampak lelah. Itu tak hanya secara fisik tapi juga psikis.  Sehingga mereka langsung didata dan dicek kesehatannya.  

Setelah itu mereka dikasih makan dan minum. Sedangkan yang membutuhkan perawatan langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang.

Di antara warga yang langsung dirujuk ke RSSA itu adalah Sarwi (58). Warga asal Probolinggo itu pingsan. Sehingga harus menjalani perawatan secara intensif. 

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander dan Dandim Kota Malang Letkol Tommy Anderson menyambut kedatangan korban kerusuhan Wamena Papua di Bakorwil Malang

Menurut putranya, Junaidi, Sarwi punya penyakit darah tinggi. “Tadi sempat pingsan. Sehingga harus dirawat dulu,” kata dia yang sudah setahun tinggal di Wamena. 

Sementara itu, Frisca asal  Aceh Tenggara, Sumatera juga memilih meninggalkan Wamena. Dia bersama adiknya membawa dua anak. Masing-masing  Natanaya (5) dan Naisyia (2). 

Frisca mengaku meninggalkan Wamena karena trauma. Sebab kerusuhan yang terjadi dirasakan cepat dan sangat mengkhawatirkan. 

Makanya dia bersama dua anak dan adiknya cepat-cepat meninggalkan  Papua. Sedangkan suaminya masih menunggu antrian pesawat yang akan membawanya. 

“Kami masih pikir-pikir untuk kembali lagi ke Papua. Sebab kami.masih trauma,” kata Frisca yang sudah tujuh tahun tinggal di Wamena. 

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyambut para korban kerusuhan Papua dengan dengan prihatin. Dia minta agar mereka bersabar. 

“Kami dari Pemprov Jatim siap memfasilitasi mereka sampai ke kediamannya masing-masing.  Untuk itu kami sudah koordinasi dengan teman-teman di Kementerian Sosial dan gubernur lainnya,” kata Khofifah Indar Parawansa. 

Itu karena, lanjut dia, warga korban kerusuhan Papua tersebut tidak hanya dari Jatim. Namun, juga ada yang berasal dari Jawa Tengah, Jabar, Banten dan Aceh. 

Gubernur Khofifah Indar Parawansa kala menemui ratusan warga korban kerusuhan Wamena Papua saat tiba di Malang.

Makanya, kata dia,  para korban kerusuhan itu didata. Mereka dicek kesehatannya lalu difasilitasi untuk kembali ke asalnya masing-masing. 

“Semua itu ditanggung Pemprov Jatim. Untuk  itu mereka harus didata. Data-data tersebut sebagai konsesi bagi Pusat, Kemensos dan para gubernur lain  yang membutuhkan data warganya,” kata dia. 

Dia menjelaskan bahwa warga yang eksodus meninggalkan Wamena tidak hanya lewat Bandara Abdul Rachman Saleh Malang. “Sebab,  siang tadi juga ada yang lewat Bandara Juanda, Sidoarjo,” kata ia. 

Mereka difasilitasi Gubernur Jatim untuk kembali ke daerahnya masing-masing. “Sedangkan yang dalam kondisi sakit langsung dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya,” pungkasnya.  (lil)