Banyak Warga Tak Tahu, Dewan Bakal Evaluasi Kinerja PT BWR Terkait Dana APBD Rp 3 Miliar

12 August 2019 - 18:43 WIB
Toko Rakyat milik BWR dan Wiwik pemilik Warung Nasi
Toko Rakyat milik BWR dan Wiwik pemilik Warung Nasi

BATU (Surabayapost.id) – Kalangan DPRD Kota Batu berencana  melakukan evaluasi terhadap kinerja PT Batu Wisata Resource (BWR). Sebab Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Batu tersebut mendapat kucuran dana penyertaan modal Rp 3 miliar dari APBD 2017. 

Sementara usaha PT BWR belum banyak dikenal masyarakat. Bahkan salah satu sektor usahanya yaitu Toko Rakyat yang berada di wilayah Desa Jl Bukit Berbunga,  Nomor 252 Desa Sidomulyo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu tak banyak masyarakat tahu. 

Keberadaan Toko Rakyat itu pun masih diragukan dampaknya terhadap peningkatan ekonomi kerakyatan. Terutama sektor  Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di Kota Batu.

Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya, Direktur PT BWR, Bagyo Prasasti Prasetyo, mengaku bila Toko Rakyat tersebut untuk menyuplai bahan pokok pada toko – toko warga yang tersebar di Kota Batu. Itu dengan harga grosir, karena harganya  lebih murah dari harga yang ada di pasar.

Berdasarkan fakta di lapangan,  keterangan Direktur PT BWR yang akrab disapa  Bagyo tersebut ternyata tidak sesuai. Sebab, menurut  Wiwik, pemilik warung nasi Mawar di Jl Bukit Berbunga, harga bahan pokok yang tersedia di Toko Rakyat tersebut, malah ada yang lebih mahal dan sebagian harganya  sama dengan harga yang di Pasar.

“Beras saja 10 Kg ,mereknya SN, di Toko Rakyat seharga Rp 60 ribu, kalau di pasar harganya Rp 59 ribu.Sedangkan teh pucuk seharga Rp 2.700 kalau di pasar seharga  Rp 2, 500. Sedangkan barang – barang yang lain, sejenis rokok, sarimi, minyak goreng dan telur serta yang lainnya, itu sama harganya seperti harga kulakan yang di Pasar,” kata Wiwik.

Meski begitu, Wiwik mengaku masih tetap berbelanja di Toko Rakyat tersebut. Alasannya karena dekat, dan warungnya berhadap-hadapan dengan Toko Rakyat itu, maka disebutkan dia, hanya tinggal menyebrang jalan saja.

” Kalau dulu bukanya Toko Rakyat itu sampai agak malam, sekitar Pukul  21.00 Wib, dan Karyawannya Sip – Sip pan. Tapi kalau sekarang sekitar Pukul 16, 30 Wib sudah ditutup,” kata Wiwik.

Hal senada juga dikatakan  pemilik warung, Rokim. Menurutnya penyediaan bahan pokok tersebut semuanya harganya sama dengan harga di pasaran.

“Artinya kami belanja di Toko Rakyat tersebut, karena hanya memilih dekatnya saja. Kalau harga – harga bahan pokok yang disitu sama saja dengan harga seperti  yang di pasar,” tandasnya.

Rokim juga tidak pernah tau kalau keberadaan  Toko Rakyat itu dapat penyertaan modal lewat APBD Kota Batu. “Saya pikir itu usahanya siapa, dan jarang orang mengerti kalau Toko Rakyat tersebut ada kaitannya dengan Pemkot Batu,”tanya Rokim.

Sementar itu, Ketua Komisi A, Sudiono DPRD Kota Batu, terkait keberadaannya Toko Rakyat, PT BWR, karena ada kaitannya dengan uang APBD Kota Batu, menurutnya dengan waktu singkat bakal melakukan evaluasi.

“Dengan besaran penyertaan modal senilai Rp 3 miliar itu, setidaknya harus bisa mempertanggung jawabkan dengan transparan dan benar.Selain itu, sudahkah bisa dijalankan dengan baik dan bisa mendongkrak ekonomi masyarakat Batu.Dan berada hasil nya dari perputaran rupiah dari besaran penyertaan modal yang awal.Dan berapa pula setiap tahunnya yang bisa disumbangkan PAD nya ke Kota Batu,” tanya Sudiono.

Dengan begitu, Sudiono mengaku paska pengajuan penyertaan modal kala itu dengan besaran miliaran rupiah, PT BWR juga banyak program kerja mereka.Jadi sekarang, sejauh mana progres kerjanya  itu.

“Artinya karena itu BUMD dengan tujuan usaha awalnya demi masyarakat Batu. Itu secepatnya akan kami lakukan koordinasi dengan dewan yang lain, agar segera dievaluasi kinerjanya,” janji Sudiono (Gus)