Koleksi 54 Emas, Siswa SD Islam Sabililla Ingin Ikuti Jejak Sang Ayah

12 August 2019 - 21:52 WIB
Arsya Naufa Mauritzan bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra Zubaidah, MM pose bersama sesama siswa SD Sabilillah di Balaikota Malang

MALANG  (SurabayaPost.id) – Prestasi siswa SD Islam Sabilillah, Arsha Naufa Mauritzan luar biasa. Sebab,  siswa kelas IV yang masih berusia 10 tahun ini sudah mengoleksi 54 emas lewat kompetisi sains nasional dan internasional.

Hampir setiap kompetisi sains, putra pasangan dari Adam Aliyya Machfud, ST, MT dan drg Ranny Rachmawati Sp.Perio selalu meraih juara.  Sehingga kediamannya di Jl Bunga Merak II No 7, Kota Malang itu penuh dengan medali dan piala. 

Lalu apa cita-cita anak  sulung dari dua bersaudara ini? Dia menceritakan bila ingin menjadi seorang insinyur. “Saya ingin mengikuti jejak ayah,” kata Arsha, Senin (12/8/2019).

Arsha menyebut nama ayahnya adalah Adam Aliyya Machfud, ST, MT, ayah bocah ini jebolan ITB. Sementara sang ibu drg Ranny Rachmawati, Sp.Perio, merupakan alumni Fakultas Kedokteran Gigi UI Jakarta. 

Arsya Naufa Mauritzan bersama sang nenek Renny Nuchairlina dan sang ibu Ranny Rachmawati dengan sederet medali yang tersusun rapi dikediamannya

Sementara sang ibu drg Ranny Rachmawati,Sp.Perio, bercerita,  sejak kecil sebenarnya Arsha adalah anak yang atraktif. Tidak pernah diam. “Dia baru diam jika sedang mengerjakan pekerjaan atau sedang fokus untuk mengikuti lomba,” ujar Ranny Rachmawati kala bercerita didampingi Renny Nurchairlina (Nenek Arsha).

Kecerdasan dan tingkat kecenderungan Arsha itu, kata dia,  sudah terbaca sejak usia 4, 5 tahun. Atau kala ia duduk di TK. 

Karena atraktif dan memiliki banyak energi, ibunya kemudian membawa anaknya untuk ikut bimbingan belajar. Sebelum di Kumon, Arsha kata sang ibu juga belajar musik. 

“Arsha rupanya cocok di Kumon dan sukanya matematika,”ungkapnya. 

“Sementara untuk bahasa daerah atau ilmu sosial yang hafalan dia kurang berminat,” tambah drg.Ranny

Arsha termasuk anak cerdas “ajaib”. Tidak pernah ada bimbingan belajar (bimbel) khusus. Asupan makanannya pun biasa saja. Bahkan ketika masih kecil susah makan. Lantaran hal ini badan Arsha menjadi kurus. 

Pertumbuhan fisik pun tak beda dengan anak seusianya. Namun memasuki usia 4, 5 tahun tingkat kecerdasan Arsyah mulai tampak. Diawali dengan bakat hitung hitungan cepat, ia makin menonjol di Kumon khusus matematika. 

Untuk menguji tingkat kecerdasannya, Arsya mencoba mengikuti kompetisi sains (ilmu pengetahuan) tingkat kota Malang. Alhasil ia tampil sebagai juara. 

Seterusnya Arsya mengikuti lomba tingkat nasional. Hasilnya sama. Meraih juara pertama dan memperoleh medali emas.

Tahun 2016 meraih medali perak di Thailand dari 17 peserta berbagai negara. Di tahun yang sama memperoleh medali perak di Cina.  

“Waktu itu dia baru duduk di Kelas II SD,” kenang drg.Ranny Rachmawati.

Medali emas diukirnya pada tahun 2018 di Singapura pada 2018. Bocah cerdas ini kebanjiran juara baik itu tingkat nasional maupun internasional, termasuk di Hongkong dan terakhir belum lama ini memperoleh medali emas di Jepang dan Taiwan. 

“Yang terbaru, Arsha Naufal Mauritzan meraih medali emas Asia International Mathematic Olympiad 2019 di Taiwan, medali emas di World Mathematic Games Olympiad 2019 di Taiwan dan Star of Asia 2019 dengan nilai tertinggi dari seluruh tim,” tuturnya.

Hingga kini, Arsya telah mengoleksi 54 medali yang terdiri dari 44 emas, 4 perak dan 6 perunggu yang diraih dari berbagai event nasional maupun internasional. 

Arsya merupakan anak cerdas, mangkanya, atas prestasinya, siswa kelas IV SD Sabilillah itu mendapat apresiasi khusus dari Walikota Malang, Sutiaji serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang  Zubaidah. (lil)