40 Pimpinan Bank Talk Show di UB, Ketua BMPD Beber Tantangan SDM Perbankan

15 April 2019 - 21:52 WIB
Ketua BMPD Jatim-Malang yang juga Kepala BI Perwakilan Malang Azka Subhan Aminurridho saat membuka talk show bertajuk Tantangan SDM Perbankan di Era Milenial yang digelar di kampus Universitas Brawijaya Malang, Senin (15/4/2019).
Ketua BMPD Jatim-Malang yang juga Kepala BI Perwakilan Malang Azka Subhan Aminurridho saat membuka talk show bertajuk Tantangan SDM Perbankan di Era Milenial yang digelar di kampus Universitas Brawijaya Malang, Senin (15/4/2019).

MALANG (SurabayaPost.id) – Sebanyak 40 pimpinan bank bersama Bank Indonesia (BI) Perwakilan Malang dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Jatim-Malang menggelar talk show di kampus Universitas Brawijaya Malang, Jatim, Senin (15/4/2019). Puluhan pimpinan bank tersebut berasal dari wilayah Malang Raya, Pasuruan dan Probolinggo.

Talk show tersebut bertajuk “Tantangan SDM Perbankan di Era Milenial”. Ada beberapa pimpinan bank yang menjadi pemateri dalam talk show tersebut.

Diantaranya Kakanwil BNI Wiwi Suprihatna, Kacab Bank Jatim, Bambang Ismono. Selain itu, Kacab BRI Syariah, Aminudin dan Kacab UOB, Anie Kusuma serta pimpinan bank anggota BMPD Jatim-Malang.

Sebanyak 40 pimpinan bank bersama mahasiswa peserta talk show Tantangan SDM Perbankan di Era Milenial.
Sebanyak 40 pimpinan bank bersama mahasiswa peserta talk show Tantangan SDM Perbankan di Era Milenial.

Para pimpinan perbankan itu diajak Ketua Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Jatim – Malang, Azka Subhan Aminurridho. Tujuannya, untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, UMM dan UIN Maliki.

“Kami ajak para pimpinan bank tersebut untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa. Sebab mahasiswa itu merupakan generasi yang akan menggantikan kita di masa yang akan datang,” kata Azka Subhan Aminurridho.

Makanya, pada kesempatan tersebut, Azka Subhan Aminurridho yang juga Kepala Perwakilan BI Malang ini membeber tantangan – tantangan yang harus dihadapi SDM perbankan.

Dijelaskan pria yang akrab disapa Azka ini bila SDM merupakan kunci kemajuan suatu bangsa, termasuk di perbankan. “Anak-anak atau adik-adik mahasiswa ini merupakan “bahan baku” SDM perbankan masa depan,” jelas Azka.

Khususnya, lanjut Azka, di era digital banking. Menurut dia, mereka akan menjadi salah satu yang terdepan di dunia perbankan.

Meski begitu, terang dia, tantangan ke depan akan semakin kompleks, pelik dan rumit. Sebab, teknologi informasi terus berkembang hampir setiap detik.

“Kini kita memasuki era revolusi industri 4.0. Sedangkan negara maju telah mulai mengintip revolusi industri 5.0 bahkan 6.0,” kata dia.

Pimpinan perbankan saat memberikan  materi dalam talk show bertajuk Tantangan SDM Perbankan di Era Milenial yang digelar di kampus Universitas Brawijaya Malang.
Pimpinan perbankan saat memberikan materi dalam talk show bertajuk Tantangan SDM Perbankan di Era Milenial yang digelar di kampus Universitas Brawijaya Malang.

Makanya, kata mantan pejabat BI Bali ini, mahasiswa yang diharapkan menjadi penerus di dunia perbankan itu dituntut untuk menguasai digitalisasi teknologi. Tuntutan tersebut, menurut Azka, menjadi tantangan tersendiri yang harus diantisipasi mulai saat ini.

Selain itu, kata Azka yang juga mantan pejabat BI di Bandung ini, sistem keuangan di Indonesia berbeda dengan negara maju. “Porsi perbankan 80% dari pasar keuangan Indonesia,” jelas dia.

Menurut dia, pangsa pasar perbankan di Indonesia itu sangat besar. Pangsa pasar yang besar itu belum semua rakyat Indonesia terlayani perbankan.

“Bank is the most regulated institution in the world, tapi juga karir yang menantang. Makanya, perbankan harus menerapkan fintech dan harus update dengan teknologi terkini,” tutur pria asal Semarang ini.

Meski begitu dia mengakui bahwa tak semuanya harus dilakukan menggunakan teknologi canggih. Alasan pria ramah ini, karena SDM di perbankan tak semuanya bisa diperankan penyelesaiannya memakai teknologi.

Menurut dia, perbankan tetap membutuhkan SDM untuk pelayanan (service) langsung, analisis penilaian karakter, dan kebutuhan non teknologi lainnya. Karena itu, kata dia, kerjasama dengan UB dan universitas lain perlu dilakukan BMPD. “Terutama dalam bidang edukasi perbankan. Itu demi menyiapkan SDM di masa yang akan datang sebagaimana yang kita lakukan selama ini,” pungkasnya. (aji)