Gelar Workshop, BI Malang Dorong UMKM dan IKM Menjadi  Eksportir 

28 August 2019 - 21:36 WIB
Eksportir Produk Fashion dan Aksesoris member KEMI dari Kota Solo, Ardo Wardoyo saat memberikan pemaparan cara mengekspor produk ke luar negeri, di hadapan peserta workshop yang digelar di kantor BI Malang,  Rabu (28/8/3019). 

MALANG  (SurabayaPost.id) –  Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang mendorong pelaku Usaha Mikro  Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) untuk menjadi eksportir. Untuk itu, BI Malang menggelar workshop “Ekspor itu Mudah” di Gedung Pertemuan BI Malang, Rabu (28/8/2019). 

Kepala Tim Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi BI Malang, Rini Mustikaningsih mengatakan bila  UMKM dan IKM yang menjadi binaan BI Malang cukup banyak. Mereka tersebar di seluruh wilayah kerja BI Malang. 

“Usaha UMKM dan IKM binaan BI itu bervariasi.  Ada yang memproduksi makanan olahan, kopi, batik dan kerajinan lainnya. Semua itu memiliki peluang untuk diekspor,” jelas Rini Mustikaningsih. 

Para pelaku UMKM dan IKM saat mengikuti workshop “Ekspor itu Mudah” di Kantor Perwakilan BI Malang, Rabu (28/8/2019).

Semua UMKM dan IKM tersebut kata dia mendapatkan pembinaan dan pendampingan secara intensif.  Bahkan mereka diberi bantuan dan pendampingan secara teknis dari BI. 

Dia contohkan seperti  membawa para pengrajin batik belajar ke Solo.  Petani kopi juga diajari membuat kopi berkualitas. Semuanya kata dia difasilitasi dengan baik. 

Menurut dia, saat ini binaan BI Malang ada 25 unit. Itu termasuk klaster bawang merah dan  padi. Salah satu yang tengah naik daun, kata dia, Kopi Sumadi Prigen Pasuruan. Kopi tersebut juga  dikembangakan daerah lainnya. 

Ditegaskan dia, semua produk UMKM dan IKM itu diarahkan untuk ekspor. Sebab, kata dia,  BI memang berupaya untuk mendorong mereka menjadi eksportir. 

Makanya, kata dia, BI Malang bekerjasama dengan Komunitas Eksportir Muda Indonesia (KEMI) menggelar workshop “Ekspor itu Mudah”.  Tujuannya, kata dia, untuk mendorong para pelaku UMKM dan IKM mengekspor hasil usahanya ke luar negeri. 

Menurut  Ketua KEMI, Kustanto peluang ekspor bagi UMKM dan IKM sangat besar. “Makanya mereka  harus diberikan pemahaman baik terkait standar produk maupun jangkauan pasar di luar negeri,” jelas dia.

Dijelaskan dia jika melakukan ekspor itu tidak harus menunggu besar. Hanya saja, kata dia, para pelaku UMKM  dan IKM harus mengetahui cara melakukan ekspor dengan mudah. 

“Untuk itu,  pada kesempatan ini kita undang juga pelaku ekspor dari IKM dan Beacukai. Sehingga aturan-aturan ekspor itu bisa diketahui dengan jelas,” tutur Kustanto.

Menurut dia, yang produksinya kecil tak perlu khawatir. Sebab, kata dia, bisa titip menitipkan produknya lewat UMKM atau IKM yang sudah melakukan ekspor.

Makanya kata dia yang harus diketahui lebih awal adalah cara membuat produk dengan standar kualitas pasar tujuan. Selain itu, tata cara melakukan ekspor barang ke mancanegara. 

Setelah semua itu dikuasai, lanjut dia, para pelaku UMKM dan IKM itu bisa melakukan ekspor sendiri. Tujuan negara yang peluangnya besar menjadi importir, kata dia,   juga harus dipahami.

Di antara pasar ekspor yang peluangnya besar itu disebutkan  seperti negara-negara Timur Tengah. Misalnya, Tanzania dan Maladewa, serta beberapa negara lainnya. 

Menurut dia, di negara-negara tersebut aturan standar penerimaan barang dari UMKM dan IKM di Indonesia peluangnya sangat besar. Makanya, dia minta agar pelaku UMKM dan IKM tidak rendah diri.  

Itu mengingat, pangsa pasar UMKM dan IKM untuk ekspor tidak ada masalah. Bahkan kata dia mengalami peningkatan yang signifikan, karena bisa mencapai Rp 1.4 triliun.

Karena itu, dia berharap 3600 anggota KEMI bisa melakukan ekspor.  Sebab, saat ini baru 26 persen dari seluruh anggota tersebut yang melakukan ekspor.

“Sedangkan yang lain, yang belum melakukan ekspor kita dorong terus. Sehingga semua anggota KEMI bisa menjadi eksportir,” pungkasnya. (aji)