Kejar Bintang Lima, Tiga Rumah Sakit Kaji Banding Akreditasi di Malaka

11 May 2019 - 22:57 WIB
Salah satu bidan RSUPP Betun memperagakan safety briefing di hadapan pimpinan dan tim akreditasi kedua rumah sakit di Aula Kantor Bupati Malaka
Salah satu bidan RSUPP Betun memperagakan safety briefing di hadapan pimpinan dan tim akreditasi kedua rumah sakit di Aula Kantor Bupati Malaka

KUPANG (SurabayaPost.id) – Tiga rumah sakit di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan kaji banding akreditasi di Rumah Sakit Umum Penyangga Perbatasan (RSUPP) Betun, Kabupaten Malaka, Sabtu (11/5/2019).  Mereka mengejar akreditasi paripurna atau akreditasi bintang lima seperti yang dimiliki RSUPP Betun.

Ketiga rumah sakit itu adalah Rumah Sakit (RS) Katolik Marianum Halilulik di Kabupaten Belu, RSUD Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan RS Tentara Wirasakti Kupang di Kota Kupang.

Kedatangan tim akreditasi masing-masing rumah sakit itu dalam waktu yang berbeda.  Kedatangan Tim Akreditasi RST Wirasakti Kupang, misalnya, dipimpin langsung Kepala RST Wirasakti Kupang dr Aan Riswandi.

Sedangkan Tim Akreditasi RSUD Soe dipimpin langsung Kepala RSUD Soe RA Karolina Tahun.  Kepala RST Wirasakti Kupang Mayor CKM dr. Aan Riswandi
bersama timnya datang ke Malaka pada Kamis (09/05/2019).

Kepala RSUPP Betun dr. Oktelin dan Kepala RST Wirasakti Kupang dr Aan Riswandi bersama tim pose bersama.

Di hadapan tim akreditasi RST Wirasakti Kupang dan RSUPP Betun, dr Aan bilang, pihaknya sudah lama merindukan akreditasi bintang lima. Tetapi, susah sekali. Sedangkan RSUPP Betun sebagai rumah sakit baru malahan sudah mendapatkannya.

“Kami kejar dan ingin mendapatkan bintang lima jauh di sana tetapi kami mampir dulu di Malaka. Kenapa RSUPP Betun begitu mudah mendapatkan bintang lima. Kalau pun bukan bintang lima, setengah bintang saja juga tidak apa-apa”, kata dr. Aan yang mendapat tepukan tangan tim akreditasi kedua rumah sakit yang hadir memenuhi Aula Kantor Bupati Malaka.

Menurut dr. Aan, kehadiran timnya di RSUPP Betun untuk belajar dan mendapatkan ilmu yang dimiliki manajemen RSPP Betun dengan pertanyaan dasar bagaimana caranya RSUPP Betun mencapai rumah sakit paripurna atau rumah sakit bintang lima.

“Kami ingin belajar, menuntut ilmu dan mencuri ilmu dari RSUPP Betun untuk perjalanan RS Wirasakti ke depan. Kami tidak malu,” ujarnya.

Dijelaskan, awalnya selaku pimpinan RST Wirasakti mendapat informasi dari seorang dokter yang sebelumnya pernah tugas di RSUPP dan sekarang tugas di RS Wirasakti karena mengikuti suami.
Atas informasi itu, Aan langsung berkoordinasi baik dengan tim akreditasi RS Wirasakti maupun pimpinan RSUPP untuk melakukan kaji banding akreditasi di RSUPP Betun.

“Jadi, kami minta manajemen RSUPP Betun untuk membantu kami dan memberikan ilmu yang selama ini dimiliki sehingga kami bisa meraih bintang,” katanya.

Kepala RSUPP Betun dr. Oktelin Kaswadie berterimakasih kepada RS Wirasakti Kupang yang menjadikan RSPP Betun tempat belajar dan menimba ilmu.

“Kami sangat berterimakasih atas kepercayaan RS Wirasakti Kupang untuk datang belajar di sini. Kami akan memberikan ilmu yang kami miliki sambil kita tetap belajar bersama-sama,” ujarnya.
Menurut Oktelin, untuk mencapai bintang lima memang sulit tetapi yang paling sulit adalah mempertahankan predikat paripurna ini”, tandas Oktelin.

Menurut Oktelin, untuk mencapai bintang lima atau akreditasi paripurna ini harus berkorban. Disebut, setidaknya Rp300 juta dihabiskan untuk itu. Tetapi, pihaknya selalu disuport Pemerintah Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan Bupati Stefanus Bria Seran.

“Bagi bupati saya, untuk pasien tidak ada alasan tidak ada uang. Suport dan motivasi pak bupati ini tidak pernah berhenti”, katanya.

Dukungan lain yang disediakan Pemkab Malaka adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) di semua bangsal. Antara lain dokter ahli, dokter spesialis, dokter umum dan paramedis.

Sebelumnya, pihak RSUD Soe datang dengan tujuan dan maksud sama. Tim akreditasi rumah sakit ini malahan datang bersama-sama dengan Komisi D DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Dalam kata pengantar dinner bersama Bupati Malaka Stefanus Bria Seran di rumah jabatan Haitimuk, Ketua Komisi D DPRD Kabupaten TTS Religius Usfunan mengatakan, rencana kedatangan mereka untuk melakukan kaji banding akreditasi di RSUPP Betun dipertanyakan teman-teman anggota Dewan dari komisi lain.

“Teman-teman pada tanya kenapa Malaka, kenapa Malaka. Kenapa bukan rumah sakit lain”, kata Religius.

Meskipun demikian, menurut Religius, pihaknya tidak perlu malu belajar dari Malaka. Meskipun Kabupaten Malaka baru terbentuk. Sebab, untuk belajar, meskipun Kabupaten Malaka itu baru tetapi kalau sudah berhasil, kita tidak perlu malu. Kakak juga bisa belajar dari adik”, kata Religius.

Bupati Malaka Stefanus Bria Seran mengaku senang dan sangat bangga karena banyak rumah sakit yang mau datang dan belajar bersama-sama di RSUPP Betun. “Hal ini menjadi nilai tambah dan kontribusi tersendiri bagi perjalanan daerah ini”, kata Bupati Stefanus di Betun, Sabtu (11/05/2019).

Bupati Stefanus menjelaskan, predikat akreditasi paripurna yang diperoleh RSUPP Betun merupakan hasil kerja keras dan kerjasama semua pihak melalui proses yang panjang.
Sebab, sebelum manajemen RSUPP Betun mendapat predikat ini pun belajar dari beberapa rumah sakit yang ada di Indonesia, kemudian menerapkannya sesuai standar sehingga pada akhirnya memperoleh pengakuan ini.

“Keberhasilan yang sudah dicapai RSUPP Betun bukan hasil mimpi semalam  tetapi melalui proses belajar dan perjuangan yang panjang”, tandas mantan Kadis Kesehatan NTT itu.

Di bidang kesehatan, kata Bupati Stefanus, Pemkab Malaka meminta pendampingan tim pakar dari Pusat Kebijakan dan Management Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, Tim Pakar Kesehatan dan Tim dari Dinas Kesehatan Propinsi NTT, untuk mendampingi, berdiskusi dan membenahi hal-hal teknis terkait manajemen kesehatan.

Pemkab Malaka sendiri sebagai pemilik rumah sakit selalu mensuport dengan menyediakan fasilitas, baik gedung, peralatan maupun sumber daya manusia yang handal dan berkompeten di bidangnya.

Mantan Kadis Kesehatan Sumba Timur itu berharap pihak manajemen RSPP Betun terus membuka diri bagi rumah sakit yang lain bisa belajar.
Setiap kunjungan rumah sakit lain hendaknya menjadi cambuk untuk mempertahankan keberhasilan yang sudah dicapai. Tetapi, yang lebih penting, bagaimana mengimplementasikan apa yang tertuang dalam dokumen akreditasi demi pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat. (cyk)