Kereta Gantung Dijadwalkan Selesai 2020, Kota Batu Diharap Ditata Dulu

23 February 2019 - 19:48 WIB
Wali Kota Batu Hj Dewanti Rumpoko bersama PWI Malang Raya dan HDCI Malang.
Wali Kota Batu Hj Dewanti Rumpoko bersama PWI Malang Raya dan HDCI Malang.

BATU (SurabayaPost.id) –  Kota Batu bakal memiliki kereta gantung senilai Rp 1 triliun. Menurut Wali Kota Batu Hj Dewanti Rumpoko,  pembangunan kereta gantung itu direncanakan sudah bisa dinikmati paling lambat tahun 2020.

“Tahun ini kereta gantung mulai pembangunannya.  Investornya dari Austria. Kami tinggal mengurus izin saja.  Kereta gantung itu nanti keliling kota,” kata Hj Dewanti Rumpoko kala bersilaturahmi dengan PWI Malang Raya dan HDCI Malang di Gedung Pancasila, Among Tani Kota Batu, belum lama ini.

Menurut Dewanti Rumpoko, beroperasinya kereta gantung itu akan bisa memecahkan kemacetan  di Kota Batu. “Insya Allah 2020 selesai. Itu semua demi kenyamanan masyarakat Kota Batu,” tuturnya.

Meski begitu  Wakil Ketua DPRD Kota Batu, Hari Danah mengingatkan agar tidak terpaku pada kereta gantung saja. “Memang soal kereta gantung itu kami sangat mengapresiasi,” papar dia, Sabtu (23/2/2019).

Alasan Hari Danah Wahyono, karena kereta gantung itu merupakan mega proyek yang bakal menjadi perhatian Bumi Nusantara. Sebab, selain yang terpanjang di dunia –mungkin– juga bisa bermanfaat untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas.

Wakil Ketua DPRD Kota Batu Hari Danah Wahyono.
Wakil Ketua DPRD Kota Batu Hari Danah Wahyono.

“Namun, kita berharap yang lainnya perlu diperhatikan juga. Makanya, perlu dikoordinasikan dengan matang,” papar dia.

Itu mengingat, dalam mengurai kemacetan tidak sebatas dengan kereta gantung. Ada hal lain yang perlu diperhatikan juga jalan-jalan alternatif dan pelebaran jalan, serta rest area.

“Bahkan penataan kota dan keindahannya  juga harus diperhatikan. Menurut saya yanh juga diutamakan terlebih dulu ya masalah itu dulu,” kata politisi dari Partai Gerindra ini.

Selain itu, kata dia, keberadaannya kereta gantung nantinya, terkait tiang pancangnya juga harus dipikirkan dengan matang. Persoalannya kalau tiang pancangnya didirikan diatas lahan warga setempat, kalau tidak dibicarakan terlebih dulu bisa  memicu persoalan baru.

Untuk itu, kata dia, yang perlu dibangun terlebih dahulu soal SDM dari masyarakat. Sehingga dampak negatif dan positifnya bisa diketahui sejak awal.

itu karena, kata dia, sesuatu yang didirikan di Bumi Kota Batu, yang harus dipikirkan dampak manfaatnya terhadap masyarakat Kota Batu. Untuk itu, Wakil Ketua DPRD Kota Batu ini, menyarankan hal tersebut tidak harus dipaksakan

“Kalau penataan Kota Batu, mulai dari infrastrukturnya, keindahan kotanya, ketertiban PKL-nya dan penataan parkirnya belum memadai, tentu kereta gantung perlu dipikirkan lagi. Termasuk Pasar induk Kota Batu. Itu menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama. Kereta gantung diutamakan, kemudian hal – hal yang lain terabaikan, celaka kita,” sindirnya.

Oleh karena itu, Hari Danah Wahyono  berharap dari dinas terkait maupun masyarakat dan para legislator dan lainnya harus diskusi bersama. Sehingga, dalam pelaksanaannya nanti  tidak menimbulkan persoalan.

“Nama Kota Wisata Batu sudah mendunia. Ayo  kita rembug bareng bagaimana caranya dalam menata keindahan kotanya dulu. Batu Kota Bunga, namun masih belum nampak keindahan dan pemanfaatan bunga – bunga yang ada di Kota Batu. Sebab, keindahan Kota Batu masih kalah dibandingkan beberapa kota di Jawa Timur. Salah satunya dengan Kota Surabaya,” pungkasnya. (gus)