Rektor Unikama: Kericuhan Pemilihan Presma Sudah Diatasi 

13 January 2020 - 10:19 WIB
Rektor Dr Pieter Sahertian saat didampingi Kabag Penalaran dan Kewirausahaan Insan Abraham dan Kabag Humas Unikama Retno Wulandari di ruang humas Unikama.

MALANG  (SurabayaPost.id) – Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Dr Pieter Sahertian angkat suara terkait kericuhan yang terjadi Sabtu (11/1/2020) di area kampus setempat.  Menurut dia, Minggu (12/1/2020) kericuhan tersebut sudah teratasi. 

Dijelaskan dia bila kericuhan antar mahasiswa itu  terjadi diduga akibat ketidakpuasan salah satu pendukung pasangan calon (paslon) pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) pada Jumat (10/1/2020). “Mereka tak puas dengan hasil perhitungan,” kata dia. 

Menurut keterangan salah seorang mahasiswa, ketegangan mulai muncul saat diketahui, adanya tindakan represif dari salah satu pendukung paslon kepada pendukung paslon yang memenangkan perhitungan suara. Yang kemudian berbuntut aksi saling serang dari kedua belah pihak. Ketegangan akhirnya mereda saat pukul 16.00 WIB pihak kampus berusaha membubarkan mahasiswa yang masih berada di areal depan kampus.

Makanya Rektor Unikama Pieter Sahertian membenarkan bahwa kerusuhan tersebut merupakan  buntut ketidakpuasan salah satu pendukung paslon Presma terhadap hasil perhitungan. 

“Mungkin ada sedikit kekeliruan dari KPU kampus dalam proses penghitungan. Dalam proses perhitungan tersebut memang ada selisih tiga suara,” ungkapnya saat didampingi Kabag Penalaran dan Kewirausahaan Insan Abraham dan Kabag Humas Unikama Retno Wulandari di ruang humas Unikama.

Lebih lanjut Pieter mengatakan, dengan adanya hal tersebut, pihak kampus mengundang semua paslon beserta tim suksesnya untuk melakukan mediasi. Menurutnya, hal itu dimaksudkan agar segera mendapat titik terang dan suasana tidak semakin memanas. 

“Dan kemarin itu saya diundang karena KPU kampus akan melakukan penetapan suara yang sah dan penetapan pemenangnya. Tapi, dalam proses itu ada temuan-temuan walau tidak signifikan, yang membuat pendukung pasangan calon 1 dan 3 bentrok,” ulasannya.

Bentrokan tersebut, tambah Pieter, membuat aparat kepolisian dan TNI untuk melakukan pengamanan. Itu  agar tidak terjadi kericuhan.

“Sebenarnya, melihat kampus di jaga aparat kepolisian dan TNI merupakan pemandangan yang gimana, mereka berjaga-jaga agar tidak terjadi kericuhan. Syukurlah, hari ini (Minggu 12/1/2020) telah ditetapkan pasangan calon nomor urut 1 yang menang,” ujar dia. 

Menurut Pieter, pihaknya selalu berusaha memberi pembinaan kepada mahasiswanya untuk bisa lebih bijak dan tidak mudah terprovokasi oleh sesuatu hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. 

“Pembinaan terus dilakukan, dan terkait hal semacam itu, memang kemampuan mengendalikan emosi yang menurut kami membutuhkan proses. Dan kami berusaha menghargai proses itu. Selain itu, kami juga tidak berharap mahasiswa Unikama resistensinya tinggi di masyarakat. Dan kami pastinya juga akan tetap berkomunikasi dengan masyarakat, hal itu juga beberapa kali telah kami lakukan,” pungkasnya. (lil)