Mantan Ketua Presidium Pokja Batu: Perkembangan Kota Batu Luar Biasa

14 October 2020 - 23:54 WIB
Para tokoh yang memperjuangkan peningkatan status Kotatif Batu menjadi Kota Batu

BATU (SurabayaPost.id) – Tak terasa, usia Kota Batu sudah 19 tahun. Suatu perjalanan waktu yang sangat singkat bila dibandingkan dengan perkembangannya yang sangat pesat.

Kota Batu tak hanya menjadi kota wisata yang populer bagi wisatawan domestik, dalam negeri. Namun, juga kesohor hingga manca negara.

Itu mengingat, Kota Batu awalnya hanya sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Malang. Setelah itu naik status menjadi Kota Administratif (Kotatif) Batu.

Sejak menjadi Kotatif itulah muncul keinginan warga bersama para tokoh setempat untuk menaikkan statusnya menjadi Kota Batu. Kala itu yang menjadi Walikotatif Batu adalah Imam Kabul.

Imam Kabul yang didorong para tokoh masyarakat setempat sangat gigih memperjuangkan Kotatif Batu menjadi kota yang otonom. Sehingga terbentuk kelompok kerja (Pokja) peningkatan status menjadi Kota Batu.

Andrek Prana

Pokja itu terdiri dari Andrek Prana, Selamet Hendro Kusumo, Sentot Ari Wahyudi dkk. Sebagai Ketua Presidium Pokja tersebut adalah Andrek Prana.

Sebagai pelaku sejarah, Andrek Prana merasa bangga dengan perkembangan Kota Batu saat ini. Dia.mengakui bila kepesatan perkembangan Kota Wisata Batu kini tak lepas dari tangan dingin Wali Kota Eddy Rumpoko.

Menurut dia, Eddy Rumpoko sangat sukses membangun Batu. Bahkan, Wali Kota Dewanti Rumpoko dinilainya juga sukses melanjutkan perjuangan wali kota sebelumnya.

Meski begitu, kata dia, Kota Batu tidak akan seperti sekarang ini seandainya Pokja Peningkatan Status kotif Batu tidak berjuang all out sejak tahun 1999 silam.

Menurut mantan Wakil Ketua DPRD Batu periode 2009 sampai 2014 yang sapaan akrabnya Anderk ini, pada September 1999 semua media di Jatim mengabarkan pernyataan Gubernur Jatim Imam Utomo. Kala itu Gubernur Imam mengatakan bahwa Kotif Batu kembali menjadi kecamatan dan kembali jadi bagian Kabupaten Malang.

“Kala itu, Bupati Malang sedang dijabat oleh Mohammad Said. Dia juga menyatakan di berbagai media massa siap menghibur warga Batu. Alasannya karena kembali bakal jadi Kecamatan,” ungkap mantan Ketua Presidium Pokja Peningkatan Status Kotif Batu, Andrek Prana, Rabu (14/10/2020).

Kala itu, ungkap dia, pokja didirikan di atas ring tinju Pemuda Pancasila (PP) di area Plaza Batu, 7 September 1999. Dan itu, lanjut dia dirintis para tokoh ikatan mahasiswa Kota Batu (Imakoba) dan para tokoh lainnya.

“Tokoh Koperasi Pemuda Batu (Kopeda) dan tokoh-tokoh LSM Brantas kemudian tokoh pemuda dan masyarakat serta para alim ulama. Sekaligus tercatat ada yang dari purnawirawan TNI dan Polri,” paparnya.

Saat itu, papar dia, pokja menolak Batu kembali jadi Kecamatan lagi. Saat itu pula tengah berjuang habis – habisan jadi Pemkot. Menurut dia, memakan perjuangan yang lama sekitar 3 tahun, dan tercatat sejak tahun 1999 sampai tahun 2001.

“Memperjuangkan Batu jadi Pemkot seperti sekarang ini bukan hal yang mudah. Pemerintah Pusat sudah memutuskan Batu kembali jadi Kecamatan, dan tim antar departemen yang diketuai Mendagri Suryadi Sudirja sudah sepakat Batu kembali jadi Kecamatan,” bebernya.

Selanjutnya, beber mantan kandidat Wali Kota Batu pada tahun 2002 dan tahun 2007 ini, pokja menolak keputusan pusat dan daerah kala itu. Dan penolakan itu, menurutnya telah meyakini Batu kalau berdiri jadi Pemkot bakal lebih maju.

“Karena potensi pariwisata sangat layak menjadi pendongkrak ekonomi kemajuan Kota Batu. Artinya apa yang sudah diyakini pokja sebelumnya jadi kenyataan,” tutur pemuda pelopor pariwisata Jatim diera tahun 1988 ini bangga.

Selanjutnya, mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Kota Batu diera tahun 1983 ini, mengaku dalam memperjuangkan Kotif jadi Kota Batu ini, memerlukan perjuangan panjang yang menguras pikiran dan tenaga bahkan materi dari anggota pokja.

“Dengan cara menjual lukisan pribadi, sampai menjual mobil bahkan ada yang menggadaikan SK pensiun,” kata penulis buku wisata Pesona Kota Batu “The Wonder of Batu” tahun 1987 ini.

Tak cukup sampai disitu, Andrek juga mengaku juga puluhan kali anggota pokja bolak balik plesir ke Jakarta. Mereka mendatangi Mendagri dan DPR RI.

“Sekitar 47 kali bolak-balik ke Jakarta, sekitar 28 kali ke Kantor Gubernur dan DPRD Jatim. Bahkan puluhan kali mendatangi Pemkab Malang dan DPRD Kabupaten Malang. Selain audiensi, saat itu juga menyampaikan surat dan sempat melakukan aksi demo,” ucapnya.

Menurut dia, pada saat itu, pemerintah pusat tidak setuju karena Batu dianggap sebagai daerah pertanian yang sekaligus juga daerah penyimpanan air buat daerah sekitarnya. Selain itu, karena di Kabupaten Malang juga sudah ada Kota Malang.

“Pokja pantang menyerah dan terus mendesak Depdagri dan DPR RI untuk memberikan ruang dan kesempatan untuk Batu menjadi Pemkot. Baik melalui tatap muka maupun lewat pernyataan di media massa daerah maupun pusat,” tandasnya.

Untuk diketahui, bagi masyarakat Batu dan kita semua,bagaimana keadaan Kota Batu setelah menjadi Pemkot…?

Dengan kerendahan hati, mantan pergerakan ini sampai berkaca-kaca mengingat sebuah perjuangan dengan rekan-rekan sejawatnya. Dia pun hanya bisa berpesan.

“Dalam tata ruang kota dan pemberdayaan masyarakat memang masih perlu pembenahan. Tapi tak bisa terbantahkan bahwa secara keseluruhan Kota Batu mengalami kemajuan yang pesat. Terutama di bidang pariwisata dan pembangunannya,” puji Andrek.

Oleh karena itu, menurut Andrek, penghargaan besar patut diberikan kepada perintis usaha pariwisata di Kota Batu. Yakni mulai wali kota yang pertama hingga yang saat ini berkuasa.

“Jangan sampai terlupakan atau dilalaikan peran Wali Kota Batu yang bernama almarhum H Imam Kabul, dan Pak Eddy Rumpoko sampai Ibu Dewanti. Sebab peran merekalah Kota Batu seperti saat ini,” pungkasnya (Gus)